Selular.ID – Bitcoin mencatat kenaikan harga ke kisaran US$72.258 atau sekitar Rp1,15 miliar pada 10 April 2026, setelah menguat sekitar 1% dalam 24 jam terakhir.
Kenaikan ini terjadi di tengah meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, yang mendorong minat investor kembali ke aset berisiko, termasuk kripto dan saham.
Penguatan Bitcoin bahkan melampaui pertumbuhan pasar kripto secara keseluruhan yang berada di bawah 1% dalam periode yang sama.
Kondisi ini mencerminkan adanya dorongan kuat dari faktor eksternal, khususnya perubahan sentimen global yang dipicu oleh perkembangan geopolitik.
Fyqieh Fachrur, Analis dari Tokocrypto menjelaskan bahwa kenaikan ini tidak terlepas dari kesepakatan gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung selama dua minggu pada awal April 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut menurunkan persepsi risiko di pasar global dan mendorong aliran dana kembali ke aset berisiko.
“Reli Bitcoin saat ini lebih mencerminkan perubahan sentimen makro global, terutama meredanya risiko geopolitik. Dalam situasi seperti ini, Bitcoin bergerak sejalan dengan aset berisiko lainnya, bukan didorong oleh faktor fundamental internal semata,” ujar Fyqieh.
Efek dari meredanya tensi geopolitik ini juga terlihat di pasar keuangan global. Indeks saham utama seperti S&P 500 tercatat menguat sekitar 1,9%, dengan tingkat korelasi tinggi terhadap pergerakan Bitcoin.
Hal ini menunjukkan bahwa aset kripto semakin terintegrasi dengan dinamika makro ekonomi global.
Selain sentimen geopolitik, faktor teknikal turut memperkuat kenaikan harga. Dalam 24 jam terakhir, pasar mencatat likuidasi posisi short senilai sekitar US$427 juta atau setara lebih dari Rp6,8 triliun. Likuidasi ini memicu aksi beli paksa yang mempercepat kenaikan harga secara signifikan.
Momentum kenaikan juga diperkuat setelah Bitcoin menembus level resistance penting di kisaran US$71.515 atau sekitar Rp1,13 miliar, yang dikenal sebagai level Fibonacci dalam analisis teknikal.
Indikator RSI (Relative Strength Index) dalam periode tujuh hari berada di level 67,49, yang menunjukkan tren bullish atau menguat, namun belum memasuki kondisi jenuh beli.
Fyqieh menilai kombinasi antara tekanan beli dari pasar derivatif dan breakout teknikal menjadi faktor utama yang mempercepat kenaikan harga dalam jangka pendek.
Ia menambahkan bahwa kondisi ini memberikan validasi terhadap tren naik yang sedang berlangsung.
Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat turut memberikan sentimen tambahan. Inflasi PCE Februari tercatat sebesar 2,8% secara tahunan, sementara inflasi inti berada di level 3%.
Data ini dinilai stabil dan sesuai ekspektasi pasar, sehingga memberikan ruang bagi Federal Reserve untuk mempertimbangkan kebijakan moneter yang lebih fleksibel.
Namun perhatian pasar kini tertuju pada rilis data inflasi CPI Maret yang diperkirakan meningkat menjadi 3,3% secara tahunan. Data ini penting karena mencerminkan dampak lanjutan dari kondisi geopolitik terhadap harga energi dan inflasi secara keseluruhan.
Menurut Fyqieh, pasar saat ini berada dalam kondisi sensitif terhadap data ekonomi. Jika inflasi lebih tinggi dari ekspektasi, kebijakan suku bunga tinggi berpotensi bertahan lebih lama dan dapat menekan pergerakan Bitcoin. Sebaliknya, data yang lebih rendah dapat membuka peluang penguatan lanjutan.
Dalam jangka pendek, Bitcoin dinilai masih memiliki potensi untuk melanjutkan kenaikan selama mampu bertahan di atas level Rp1,13 miliar.
Jika kondisi ini terjaga, harga berpeluang menguji area resistance berikutnya di kisaran Rp1,16 miliar hingga Rp1,17 miliar.
Meski demikian, risiko koreksi tetap terbuka. Ketidakpastian terkait keberlanjutan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran menjadi faktor utama yang dapat memicu perubahan sentimen secara cepat. Dalam skenario tersebut, Bitcoin berpotensi turun ke area support di sekitar Rp1,09 miliar.
Pergerakan Bitcoin saat ini menunjukkan bahwa aset kripto semakin dipengaruhi oleh faktor eksternal, termasuk geopolitik dan kebijakan ekonomi global.
Baca Juga:Bitcoin dan Kripto Anjlok di Tengah Perang yang Masih Berlangsung
Integrasi ini membuat arah pasar tidak hanya ditentukan oleh dinamika internal kripto, tetapi juga oleh perubahan kondisi makro yang terjadi secara global.














































