Selular.ID – Catherine Hindra Sutjahyo mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Wakil Direktur Utama PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).
Perseroan telah menerima surat pengunduran dirinya pada 28 Agustus 2026.
Catherine bukan nama baru di ekosistem GoTo. Sebelum menduduki posisi Deputy CEO, ia dikenal sebagai salah satu figur utama di balik bisnis On-Demand Services, yang menjadi salah satu pilar utama ekosistem Gojek.
Perjalanan Catherine di perusahaan berlangsung bersamaan dengan transformasi GoTo dari fase ekspansi menuju bisnis yang semakin berorientasi pada pertumbuhan berkualitas dan profitabilitas.
Baca juga:
- Baru Untung, GOTO Tak Boleh Lakukan Potongan di Atas 10%
- GoTo Akhirnya Raup Laba Setelah Bertahun-tahun Merugi
Pada semester I-2026, GoTo mencatat laba bersih Rp608 miliar, menjadi salah satu indikator perbaikan fundamental perseroan.
Kiprah Catherine bersama ekosistem perusahaan dimulai jauh sebelum GoTo terbentuk.
Ia pertama kali bergabung dengan Gojek pada 2017 dan mendapat tanggung jawab dalam pengembangan GoFood, bisnis pesan-antar makanan yang saat itu tengah memasuki fase pertumbuhan pesat.
Di GoFood, Catherine berfokus pada pengembangan strategi dan berbagai inovasi produk untuk menjawab kebutuhan konsumen.
Pada saat yang sama, pengembangan bisnis tersebut juga diarahkan untuk memperluas peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang menjadi bagian penting dari ekosistem merchant Gojek.
Seiring dengan pertumbuhan bisnis, peran Catherine pun semakin besar.
Pada periode 2021-2022, situs resmi Goto mencatat, ia dipercaya menjabat sebagai Head of Food and Indonesia Sales & Operations Gojek.
Posisi tersebut membuat tanggung jawabnya tidak lagi terbatas pada GoFood, tetapi juga mencakup aktivitas penjualan dan operasional bisnis Gojek di Indonesia.
Di bawah kepemimpinannya, GoFood berkembang menjadi salah satu pemain utama industri layanan pesan-antar makanan di Asia Tenggara.
Alasan Mundur dari GOTO
Perjalanan tersebut turut memperkuat posisi Catherine di jajaran kepemimpinan perusahaan, hingga kemudian ia dipercaya menjadi Direktur GoTo sejak 2021.
Tanggung jawab Catherine kembali diperluas pada 2023 ketika ia ditunjuk sebagai Presiden On-Demand Services GoTo.
Dalam posisi tersebut, Catherine bertanggung jawab mengatur keseluruhan strategi unit bisnis On-Demand Services yang menaungi sejumlah layanan utama dalam ekosistem Gojek.
Penunjukan tersebut menandai perjalanan Catherine dari memimpin satu vertikal bisnis menjadi salah satu eksekutif yang bertanggung jawab terhadap strategi bisnis GoTo secara lebih luas.
Pengalamannya membangun GoFood dan mengelola operasi Gojek di Indonesia menjadi bagian dari rekam jejak yang membawanya ke posisi tersebut.
Perjalanan kariernya kemudian mencapai level kepemimpinan yang lebih tinggi pada 2025.
Catherine dipercaya menjabat sebagai Wakil Direktur Utama sekaligus Deputy CEO GoTo, setelah sebelumnya selama bertahun-tahun terlibat dalam pengembangan dan pengelolaan sejumlah bisnis utama di dalam ekosistem perusahaan.
Alasan Catherine akhirnya memutuskan mundur dikarenakan alasan pribadi hingga alasan keluarga.
Perusahaan Untung Tapi Saham Terancam di Bawah Gocap
Sebenarnya, selama Catherine memimpin di periode tersebut, GoTo juga terus memperkuat fundamental bisnisnya.
Pada kuartal II-2026, perseroan mencatat laba bersih Rp252 miliar, meningkat 47% dibandingkan kuartal sebelumnya dan berbalik dari rugi Rp375 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan bersih juga tumbuh 31% secara tahunan menjadi Rp5,7 triliun, sementara EBITDA yang disesuaikan untuk pertama kalinya menembus Rp1 triliun dalam satu kuartal.
GoTo juga tetap mempertahankan target EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp3,2 triliun-Rp3,4 triliun untuk 2026.
Meski perusahaan kini sudah meraup untung, namun saham GOTO masih berada di harga Rp50 alias gocap per lembar.
Bahkan, harga saham GOTO terancam berada di bawah gocap karena per tanggal 7 September 2026 nanti karena Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana menghapus batas minimum harga saham Rp50 (gocap) dan menurunkannya menjadi Rp1 per lembar.
Tujuannya untuk memperbaiki pembentukan harga (price discovery) dan memberikan ruang gerak lebih luas bagi saham yang tertahan di level Rp50.
Hal tersebut tentu membuat saham GOTO terancam berada di bawah harga Rp50 karena antrian jualnya saja lebih dari ratusan juta lot tiap harinya.



















































