GSMA: Industri Seluler Sumbang US$1,4 Triliun di Tahun 2030

3 hours ago 7

Selular.ID – Industri seluler diproyeksikan memberikan kontribusi sebesar US$1,4 triliun terhadap perekonomian Asia Pasifik pada 2030.

Nilai tersebut meningkat sekitar 40% dibandingkan kontribusi saat ini yang mencapai US$1 triliun.

Proyeksi tersebut merupakan temuan terbaru GSMA Intelligence dalam laporan Mobile Economy Asia Pacific 2026.

Laporan ini dirilis pada 20 Agustus 2026 di Kuala Lumpur, menjelang penyelenggaraan M360 ASEAN 2026 pada September mendatang.

Baca juga:

GSMA melihat pertumbuhan ekonomi digital Asia Pasifik tidak lagi hanya bergantung pada perluasan konektivitas.

Perkembangan kecerdasan buatan (AI), kepercayaan digital, kedaulatan digital, dan ketahanan infrastruktur kini menjadi faktor penting yang akan menentukan fase pertumbuhan berikutnya.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Perubahan tersebut berlangsung ketika pemerintah di kawasan menghadapi peningkatan penipuan online, kebutuhan infrastruktur AI yang semakin besar, ketidakpastian geopolitik, serta tuntutan untuk memperkuat kedaulatan digital.

5G, AI, dan IoT Dorong Produktivitas

Laporan GSMA menyebut 5G, AI, dan Internet of Things (IoT) akan memberikan peningkatan produktivitas yang signifikan di Asia Pasifik.

Sektor manufaktur dan jasa diperkirakan menjadi penerima manfaat terbesar. Kedua sektor tersebut secara bersama-sama diproyeksikan menyumbang lebih dari separuh manfaat ekonomi yang dihasilkan teknologi seluler canggih.

Peran operator seluler juga mulai berubah. Tidak lagi hanya menyediakan konektivitas, operator semakin masuk ke penyediaan infrastruktur AI, layanan cloud, dan solusi korporasi untuk mendukung kebutuhan berbagai sektor ekonomi.

Julian Gorman, Head of Asia Pacific GSMA, mengatakan jaringan seluler kini menjadi fondasi penting bagi adopsi AI, kepercayaan digital, dan pembangunan infrastruktur digital yang tangguh.

“Industri seluler memainkan peran yang semakin krusial dalam membentuk masa depan digital Asia Pasifik,” ujar Gorman.

Menurutnya, meningkatnya perhatian pemerintah terhadap kedaulatan digital dan tuntutan masyarakat terhadap perlindungan dari penipuan serta ancaman siber membuat tanggung jawab industri seluler semakin besar.

Korban Penipuan Digital Meningkat

Di tengah pertumbuhan ekonomi digital, kepercayaan digital menjadi persoalan yang semakin penting.

GSMA mencatat persentase konsumen di ASEAN yang mengaku pernah menjadi korban penipuan meningkat dari 31% pada 2024 menjadi 45% pada 2025.

Kondisi tersebut mendorong operator untuk meningkatkan investasi pada keamanan, pencegahan penipuan, serta kolaborasi lintas sektor guna melindungi konsumen dan pelaku bisnis.

Peningkatan ancaman penipuan juga menunjukkan bahwa pertumbuhan layanan digital perlu diikuti dengan penguatan keamanan.

Semakin banyak aktivitas ekonomi dan sosial berpindah ke platform digital, semakin besar pula kebutuhan terhadap ekosistem yang dapat dipercaya.

Kedaulatan Digital Jadi Prioritas

Selain keamanan, kedaulatan digital semakin mendapat perhatian pemerintah di kawasan Asia Pasifik.

Pemerintah mulai memperkuat kapabilitas digital nasional, termasuk mendukung pengembangan AI yang tepercaya dan memastikan infrastruktur digital kritikal dapat memenuhi kebutuhan ekonomi serta keamanan dalam negeri.

Operator seluler ikut mengambil peran melalui investasi pada infrastruktur cloud, platform AI, lingkungan data yang aman, dan layanan digital.

Namun, GSMA juga menekankan pentingnya menjaga keterbukaan, inovasi, dan kolaborasi lintas batas.

Ketahanan Infrastruktur Makin Penting

Ketahanan infrastruktur digital juga bergeser dari persoalan teknis menjadi prioritas strategis.

Gangguan akibat perubahan iklim, ketegangan geopolitik, risiko rantai pasok, serta ketergantungan masyarakat dan bisnis terhadap layanan digital membuat kebutuhan terhadap jaringan yang andal dan aman semakin tinggi.

Pemerintah dan industri kini memperkuat ketahanan infrastruktur komunikasi kritikal agar jaringan tetap dapat beroperasi ketika terjadi gangguan.

5G Capai 1,5 Miliar Koneksi

Selain proyeksi kontribusi ekonomi, laporan Mobile Economy Asia Pacific 2026 mencatat sejumlah indikator penting lain.

Koneksi 5G diproyeksikan mencapai 1,5 miliar pada 2030, atau sekitar 50% dari seluruh koneksi seluler di Asia Pasifik.

Untuk mendukung perkembangan tersebut, operator diperkirakan mengeluarkan belanja modal lebih dari US$200 miliar sepanjang periode 2025 hingga 2030.

Industri seluler juga memberikan dampak langsung terhadap pasar tenaga kerja. Ekosistem seluler tercatat mendukung sekitar 18 juta lapangan kerja di Asia Pasifik pada 2025.

Namun, kesenjangan digital masih menjadi persoalan. GSMA mencatat lebih dari 700 juta orang dewasa di kawasan tersebut masih belum terhubung ke internet, meskipun wilayah tempat mereka tinggal sudah mendapatkan cakupan jaringan mobile broadband.

Dibahas di M360 ASEAN

Berbagai isu tersebut akan menjadi bagian dari agenda M360 ASEAN 2026 yang digelar di Kuala Lumpur pada 9–10 September 2026.

Forum tersebut akan mempertemukan pemerintah, regulator, operator seluler, perusahaan teknologi, dan organisasi internasional untuk membahas adopsi AI, kepercayaan digital, kedaulatan digital, ketahanan jaringan, serta inklusi digital.

Sejumlah tokoh yang dijadwalkan hadir antara lain Menteri Komunikasi Malaysia YB Dato’ Seri Fahmi Fadzil, Sekretaris Jenderal ASEAN Dr. Kao Kim Hourn, serta Direktur Utama Telkom Indonesia Dian Siswarini.

M360 ASEAN akan membahas bagaimana pemerintah dan industri dapat memperkuat kepercayaan digital, mempercepat pertumbuhan berbasis AI, mendukung kedaulatan digital, serta membangun infrastruktur digital yang lebih tangguh di masa depan.

Dengan proyeksi kontribusi mencapai US$1,4 triliun pada 2030, industri seluler semakin menempati posisi penting dalam pertumbuhan ekonomi digital Asia Pasifik.

Pada saat yang sama, peningkatan konektivitas harus berjalan bersama penguatan keamanan, ketahanan infrastruktur, kedaulatan digital, dan perluasan akses internet.

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |