Kelangkaan Chip Memori Global Dongkrak Harga Smartphone Hingga 2028

5 hours ago 7

Selular.ID – Lonjakan harga komponen memori global mendorong kenaikan harga jual rata-rata smartphone global hingga 27,6 persen menjadi USD 581 pada 2026.

Fenomena ini dipicu oleh produsen memori yang mengalihkan lini produksi DRAM dan NAND ke chip High Bandwidth Memory (HBM) untuk pusat data kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Pergeseran alokasi produksi ini berdampak langsung pada penyesuaian spesifikasi perangkat serta penurunan pengiriman smartphone di pasar global maupun Indonesia.

Laporan International Data Corporation (IDC) mengungkapkan bahwa pusat data AI kini menyerap sekitar 70 persen dari total produksi memori global.

Sektor ini menawarkan margin keuntungan tiga hingga lima kali lipat lebih tinggi dibandingkan segmen elektronik konsumen.

Dampaknya, pertumbuhan pasokan DRAM dan NAND untuk ponsel pintar pada 2026 tertahan di angka 16 persen dan 17 persen, jauh di bawah rentang kebutuhan normal sebesar 20 persen hingga 30 persen.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Kondisi tersebut memperketat pasokan dan memicu kenaikan biaya komponen yang signifikan. Counterpoint Research mencatat harga DRAM global naik lebih dari 50 persen dan NAND Flash melonjak di atas 90 persen pada kuartal pertama 2026.

Menurut Francisco Jeronimo, Vice President for Worldwide Client Devices IDC, tekanan ini memicu guncangan besar pada rantai pasok elektronik konsumen global.

Ryan Reith, Group Vice President IDC, menambahkan bahwa durasi kelangkaan memori ini menjadi faktor penentu seberapa dalam penurunan pasar smartphone.

“IDC memproyeksikan pengiriman smartphone global terkoreksi hingga 16,7 persen, yang menjadi penurunan tahunan terutamanya dalam sejarah industri,”tulis Ryan.

Dampak Langsung pada Industri dan Konsumen Indonesia
Tekanan biaya komponen berdampak lebih berat pada segmen ponsel kelas bawah dan menengah.

Data Counterpoint Research menunjukkan komponen memori menyumbang 15 persen hingga 20 persen dari total Bill of Materials (BOM) ponsel kelas menengah, namun pada kuartal kedua 2026 porsinya menembus lebih dari 65 persen pada segmen entry-level.

Akibatnya, biaya produksi ponsel di bawah USD 200 mengalami kenaikan 20 persen hingga 30 persen. Penjualan ponsel di bawah USD 100 pun merosot hampir 60 persen pada periode yang sama.

Di Indonesia, dampaknya terlihat jelas pada penurunan total pengiriman smartphone sebesar 9 persen secara tahunan (year-on-year) pada kuartal pertama 2026. Berdasarkan laporan

Counterpoint Indonesia Smartphone Tracker, segmen entry-level di bawah USD 150 mengalami penurunan paling tajam hingga 19 persen.

Sebaliknya, segmen premium di atas USD 600 justru tumbuh 30 persen dan mencatat rekor kontribusi sebesar 8,3 persen dari total pengiriman.

Shilpi Jain, Senior Analyst Counterpoint Research, menjelaskan bahwa konsumen di segmen entry-level cenderung menunda pergantian ponsel atau beralih ke perangkat bekas (refurbished).

Hal ini menunjukkan bahwa penurunan volume penjualan di Indonesia lebih dipengaruhi oleh lonjakan biaya komponen dari produsen ketimbang penurunan daya beli masyarakat.

Penyesuaian Strategi Produsen dan Tolok Ukur Baru
Menghadapi kenaikan biaya yang bersifat jangka panjang, produsen smartphone mulai menyesuaikan konfigurasi produk.

Shenghao Bai, Senior Analyst Counterpoint Research, , menyatakan bahwa beberapa produsen melakukan penyesuaian pada modul kamera, kualitas layar, audio, hingga kapasitas memori.

Beberapa model ponsel kelas menengah mempertahankan besaran memori tanpa peningkatan, sementara sebagian perangkat entry-level disesuaikan ke konfigurasi 4GB DRAM agar harga jual tetap terjangkau.

Lembaga riset memperkirakan harga memori tidak akan kembali ke tingkat tahun 2025 meskipun pasokan mulai stabil. Pabrik memori baru diproyeksikan baru berproduksi penuh pada 2027.

Sementara IDC memproyeksikan tekanan harga berlanjut setidaknya hingga 2028. ,
Nabila Popal, Senior Research Director Worldwide Consumer Devices IDC, menegaskan bahwa era smartphone ultra-murah telah berakhir dan strategi industri perlu beradaptasi dengan struktur biaya baru ini.

Perubahan peta industri ini menggeser prioritas pertimbangan konsumen saat memilih perangkat baru.

Nilai sebuah smartphone tidak lagi diukur semata-mata dari besaran RAM atau kecepatan chipset.

Baca Juga:Chip Memori Langka Buat Era HP Rp1 Jutaan Berakhir, IDC Katakan Ini

Melainkan dari daya tahan baterai, konsistensi performa jangka panjang, durabilitas fisik, ketersediaan suku cadang, serta jaminan pembaruan sistem operasi dan keamanan dari produsen.

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |