Selular.ID – Pertamina mencatat realisasi program dekarbonisasi sebesar 118% dari target pengurangan emisi yang ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026 hingga semester I atau periode Januari–Juni 2026.
Capaian tersebut merupakan hasil pelaksanaan berbagai program pengurangan emisi dan efisiensi energi di sejumlah subholding Pertamina Group.
Pertamina menargetkan pengurangan emisi pada 2026 sebesar 1.962.156 ton CO₂e. CO₂e atau carbon dioxide equivalent merupakan satuan yang digunakan untuk menyetarakan dampak berbagai gas rumah kaca ke dalam ekuivalen karbon dioksida.
Target tersebut menjadi bagian dari agenda dekarbonisasi Pertamina untuk mendukung implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta target Net Zero Emission (NZE) Indonesia pada 2060.
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan program dekarbonisasi dijalankan sebagai bagian dari penerapan ESG di seluruh lini bisnis perusahaan.
“Sebagai perusahaan energi kelas dunia, Pertamina berkomitmen menjalankan ESG sesuai dengan standar dunia. Dekarbonisasi Pertamina juga merupakan komitmen Perusahaan menjalankan target Pemerintah mencapai NZE pada tahun 2060,” ujar Baron dalam keterangan perusahaan yang disampaikan pada Agustus 2026.
Efisiensi Energi Jadi Bagian Strategi Dekarbonisasi
Program pengurangan emisi Pertamina tidak hanya dilakukan melalui pengembangan sumber energi rendah karbon. Perusahaan juga menjalankan berbagai langkah efisiensi pada kegiatan operasional di masing-masing subholding.
Di sektor hulu, salah satu program yang dijalankan adalah efisiensi penggunaan fuel gas melalui optimalisasi pengoperasian gas turbine. Program tersebut dilaporkan menghasilkan efisiensi hingga 12 MMSCFD.
MMSCFD merupakan singkatan dari million standard cubic feet per day, satuan yang umum digunakan untuk mengukur volume aliran gas per hari.
Pada sektor hilir, Pertamina menjalankan sejumlah inisiatif seperti peningkatan sistem APC Boiler di Refinery Unit VI, optimalisasi gas engine, implementasi biofuel, serta pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) untuk mendukung operasional dan fasilitas perusahaan.
Kontribusi juga datang dari subholding lain. Pertamina New & Renewable Energy (PGE/Pertamina NRE) dan Integrated Marine Logistics disebut memperkuat program melalui efisiensi energi, elektrifikasi operasional, serta pengembangan energi baru dan terbarukan.
Pendekatan tersebut menempatkan pengurangan emisi tidak hanya sebagai program pada satu unit bisnis, tetapi sebagai bagian dari kegiatan di berbagai lini Pertamina Group.
Pertamina juga menjalankan program yang melibatkan masyarakat melalui Desa Energi Berdikari. Program ini memanfaatkan sumber energi bersih di wilayah pedesaan dan diarahkan untuk mendukung akses energi sekaligus aktivitas ekonomi masyarakat.
Bisnis Rendah Karbon Ikut Tumbuh
Selain capaian dekarbonisasi, Pertamina mencatat kinerja bisnis rendah karbon sebesar 101% dari target RKAP 2026 sepanjang Januari–Juni 2026.
Menurut Muhammad Baron, capaian tersebut didukung antara lain oleh pengembangan bioethanol, biofuel, dan program efisiensi energi.
Pengembangan bisnis rendah karbon menjadi bagian lain dari strategi Pertamina dalam menghadapi perubahan struktur industri energi.
Di sisi operasional, perusahaan berupaya menekan emisi dari kegiatan bisnis yang sudah berjalan. Pada saat yang sama, portofolio energi rendah karbon dikembangkan sebagai bagian dari agenda transisi energi.
Pertamina juga menyebut sejumlah kebijakan internal untuk mendukung agenda tersebut, termasuk penerapan internal carbon pricing, pengembangan proyek rendah karbon, serta integrasi aspek keberlanjutan ke dalam strategi bisnis.
Internal carbon pricing merupakan mekanisme yang memberikan nilai atau biaya internal terhadap emisi karbon sehingga faktor emisi dapat diperhitungkan dalam pengambilan keputusan bisnis dan investasi.
Capaian dekarbonisasi semester I 2026 juga melanjutkan program yang sudah dijalankan Pertamina dalam beberapa tahun terakhir.
Pada level Subholding Upstream, misalnya, Pertamina Hulu Energi (PHE) menjalankan program dekarbonisasi melalui berbagai inisiatif pengurangan emisi, termasuk pemantauan emisi dan pengukuran methane atau metana di sejumlah wilayah operasi. Laporan keberlanjutan PHE mencatat 182 program dekarbonisasi pada 2025.
Pada 2024, PHE juga melaporkan implementasi 124 program dekarbonisasi di seluruh wilayah kerja Subholding Upstream dengan reduksi emisi sebesar 1.186.873 ton CO₂e atau 150,39% dari target pada tahun tersebut.
Data tersebut menunjukkan bahwa program pengurangan emisi di sektor hulu telah dijalankan melalui rangkaian inisiatif yang terukur sebelum memasuki periode 2026.
Arah Menuju Net Zero Emission
Agenda dekarbonisasi Pertamina menjadi bagian dari target jangka panjang perusahaan dan kebijakan transisi energi nasional. Pertamina menyelaraskan berbagai program efisiensi, elektrifikasi, pemanfaatan energi terbarukan, biofuel, serta pengembangan bisnis rendah karbon dengan komitmen mendukung target NZE Indonesia pada 2060.
Bagi Pertamina, pencapaian 118% dari target dekarbonisasi hingga semester I menjadi capaian sementara dalam pelaksanaan RKAP 2026.
Program tetap berjalan pada paruh kedua tahun dengan kontribusi dari berbagai subholding, mulai dari efisiensi energi dan optimalisasi proses operasi hingga pengembangan energi baru terbarukan serta bisnis rendah karbon.
Sementara itu, target tahunan pengurangan emisi Pertamina pada 2026 tetap berada pada 1.962.156 ton CO₂e.
Angka tersebut menjadi salah satu parameter yang digunakan perusahaan untuk mengukur pelaksanaan agenda dekarbonisasi sepanjang tahun, bersama dengan pengembangan bisnis rendah karbon dan penerapan prinsip ESG di seluruh lini usaha.
Baca Juga: Cara Ini Bisa Buat Subsidi BBM Tepat Sasaran Dibanding Menggunakan Barcode Pertamina


















































