Presiden Prabowo Sebut AI Bisa Repotkan Warga Negara Indonesia

4 hours ago 3

Selular.ID – Indonesia terlihat masih belum siap untuk menghadapi keamanan siber yang ditimbulkan oleh kecerdasan buatan atau AI.

Hal tersebut terungkap dari pernyataan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto dalam Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi dan Industri (KSTI) 2026 bersama kalangan akademisi, profesor, dan rektor di Jakarta, beberapa waktu lalu (28/6/2026).

Pasalnya ledakan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai menjadi perhatian serius pemerintah.

Presiden Prabowo Subianto mengingatkan bahwa AI bukan hanya membawa manfaat, tetapi juga dapat menjadi ancaman jika tidak diantisipasi sejak dini.

Baca juga:

Menurutnya, hampir seluruh negara kini berlomba mengembangkan AI agar tidak tertinggal dalam persaingan global.

“Hampir semua negara sekarang mengejar AI, tidak mau ketinggalan. Tapi para penemu AI sendiri sudah memberi warning bahwa AI ini bisa menjadi repot bagi manusia,” ujar Prabowo.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Dia mengatakan, perkembangan teknologi AI berlangsung sangat cepat. Bahkan, kini telah muncul Agent AI yang mampu bekerja untuk individu, korporasi, organisasi hingga negara tertentu.

“Konon kabarnya sekarang sudah ada 5 juta Agent AI. Mungkin angka itu tiga minggu lalu. Mereka katanya sudah punya chat room sendiri dan berbicara dalam bahasa kode mereka sendiri,” katanya.

Menurut Prabowo, fenomena tersebut menunjukkan manusia telah menciptakan teknologi yang kemampuannya terus berkembang melampaui ekspektasi.

Karena itu, kalangan akademisi diminta mendalami perkembangan AI. Agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu mengantisipasi berbagai dampaknya.

“Juara catur saja sekarang kalah sama mesin. Mesin bisa membuat karya-karya luar biasa. Inilah yang nanti para guru besar dan profesor harus dalami,” ucapnya.

Konsumen Indonesia Cukup Sadar Ancaman Siber

Sementara itu, dalam laporannya, Kaspersky menyebut tingginya aktivitas digital ternyata juga diikuti kesadaran terhadap risiko kejahatan digital.

Sebanyak 35% konsumen di Asia Pasifik (APAC) menyatakan kekhawatiran terhadap penggunaan teknologi digital untuk melakukan kejahatan.

Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 32%.

Di kawasan Asia Tenggara, tingkat kekhawatiran tertinggi tercatat di Thailand sebesar 39%, disusul Malaysia 38%.

Indonesia berada di angka 35%, sama dengan rata-rata APAC. Berikutnya China 34%, India 32%, dan Vietnam 31%.

Menurut Choon Hong Chee, Head of Consumer Channel for APAC Kaspersky, tingginya penggunaan layanan digital membuat keamanan siber tidak lagi menjadi pilihan tambahan.

“Ketika 77% masyarakat APAC sudah online dan dompet digital menyumbang sekitar 70% pembayaran online, keamanan siber bukan lagi pilihan,” ujar Choon.

Ia menambahkan, jumlah pelanggan seluler di kawasan tersebut diproyeksikan mencapai 2,11 miliar pada 2030.

Kondisi itu membuat perlindungan terhadap data pribadi dan transaksi keuangan menjadi semakin penting untuk menjaga kepercayaan dalam ekonomi digital APAC.

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |