Seperti ini Dampak Pengisian daya 200W vs 65W pada Baterai Selama Dua Tahun

16 hours ago 10

Selular.ID – Baru- baru ini studi mempublikasikan laporan analisis yang membandingkan dampak pengisian daya cepat 200W dan 65W terhadap kesehatan baterai smartphone setelah penggunaan selama dua tahun.

Laporan tersebut menyoroti konsekuensi jangka panjang dari teknologi fast charging berdaya sangat tinggi terhadap degradasi kapasitas baterai lithium-ion, komponen utama yang digunakan hampir seluruh produsen ponsel pintar saat ini.

Pengisian daya 200W memang mampu mengisi baterai hingga penuh dalam hitungan menit, namun menghasilkan panas lebih tinggi dibandingkan 65W.

Peningkatan suhu ini berkorelasi dengan percepatan penurunan kapasitas baterai dalam jangka panjang.

Dijelaskan bahwa baterai lithium-ion secara alami mengalami degradasi setiap kali melewati satu siklus pengisian penuh.

Semakin tinggi arus dan daya yang dialirkan, semakin besar tekanan termal (thermal stress) yang diterima sel baterai.

Dalam simulasi penggunaan dua tahun, perangkat dengan pengisian 200W menunjukkan penurunan kapasitas yang lebih besar dibandingkan perangkat dengan pengisian 65W, meski tetap berada dalam batas toleransi industri.

Teknologi pengisian 200W saat ini dipopulerkan oleh sejumlah vendor asal Tiongkok, seperti Realme dan Xiaomi, yang berlomba menghadirkan waktu pengisian tercepat sebagai diferensiasi produk.

Realme, misalnya, sebelumnya memperkenalkan teknologi 240W pada lini tertentu, sementara Xiaomi memamerkan konsep pengisian 200W melalui sistem HyperCharge.

Di sisi lain, sejumlah produsen global masih mempertahankan pendekatan lebih konservatif di kisaran 65W hingga 120W untuk menjaga keseimbangan antara kecepatan dan umur baterai.

Dalam laporan tersebut, Gizmochina menggarisbawahi bahwa sistem pengisian modern tidak hanya bergantung pada adaptor berdaya tinggi.

Produsen umumnya membagi arus ke beberapa sel baterai (dual-cell atau multi-cell design) serta menyematkan chip manajemen daya untuk mengontrol suhu dan tegangan secara real-time.

Strategi ini dirancang untuk meminimalkan risiko overheat dan memperlambat degradasi kimiawi di dalam baterai.

Meski demikian, secara prinsip fisika dan kimia, panas tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi umur baterai.

Setiap kenaikan suhu mempercepat reaksi kimia di dalam sel, yang dalam jangka panjang dapat menurunkan kapasitas maksimum penyimpanan energi.

Itulah sebabnya, dalam pengujian dua tahun yang disimulasikan, pengisian 65W dinilai lebih stabil dalam mempertahankan persentase kesehatan baterai dibandingkan 200W.

Gizmochina juga mencatat bahwa pola penggunaan pengguna turut menentukan dampak sebenarnya. Jika pengisian 200W digunakan sesekali dan tidak selalu dari 0 hingga 100 persen, efek degradasi dapat ditekan.

Sebaliknya, pengisian penuh secara rutin dalam kondisi suhu tinggi berpotensi mempercepat penurunan kapasitas, terlepas dari besar daya yang digunakan.
Dari sisi industri, kompetisi menghadirkan fast charging ultra-cepat menjadi bagian dari strategi pemasaran dan inovasi teknologi.

Kecepatan isi ulang dianggap menjawab kebutuhan mobilitas tinggi, terutama di pasar Asia yang memiliki intensitas penggunaan smartphone sangat tinggi.

Namun laporan menunjukkan adanya trade-off nyata antara kecepatan ekstrem dan daya tahan jangka panjang baterai.

Secara teknis, perbedaan 200W dan 65W bukan hanya soal angka daya, melainkan juga profil pengisian (charging curve).

Sistem 200W biasanya memanfaatkan fase awal pengisian sangat agresif sebelum menurunkan daya secara bertahap mendekati kapasitas penuh.

Sementara 65W cenderung memiliki kurva yang lebih moderat sehingga fluktuasi suhu lebih terkendali.

Temuan ini relevan bagi konsumen yang mempertimbangkan faktor usia pakai perangkat lebih dari dua tahun.

Dalam konteks pasar Indonesia, siklus penggantian smartphone rata-rata berada di kisaran dua hingga tiga tahun.

Artinya, daya tahan baterai menjadi variabel penting selain performa dan kamera. Laporan tidak menyimpulkan bahwa pengisian 200W berbahaya atau tidak layak digunakan.

Seluruh teknologi tersebut tetap dirancang mengikuti standar keamanan industri dan pengujian internal masing-masing produsen.

Namun data simulasi dua tahun memperlihatkan bahwa pengisian daya dengan watt lebih rendah cenderung mempertahankan kesehatan baterai lebih baik dalam jangka panjang.

Perkembangan teknologi baterai dan sistem manajemen daya diperkirakan terus berlanjut, termasuk riset material baru dan algoritma pengisian adaptif.

Baca Juga:Smartphone Ini Siap Pecahkan Rekor Baterai dan Pengisian di Semua Ponsel Lipat

Arah inovasi ini berpotensi menentukan bagaimana industri menyeimbangkan tuntutan kecepatan pengisian dengan umur pakai baterai pada generasi perangkat berikutnya.

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |