Selular.ID – Di pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS), hampir semua brand mobil menampilkan mobil listrik terbaru mereka.
Saat ini, harga bahan bakar minyak terus mengalami kenaikan dampak dari perang yang terjadi antara Rusia vs Ukraina dan Amerika Serikat vs Iran.
Hal tersebut membuat mobil listrik tengah naik daun karena tidak memerlukan bahan bakar minyak.
Bagaimana kesiapan ekosistem mobil listrik di Indonesia ketika harga bahan bakar minyak terus naik?
Menurut pengamat otomotif sekaligus akademisi ITB, Yannes Martinus Pasaribu ada sejumlah faktor yang harus dinilai terkait kesiapan ekosistem mobil listrik di Indonesia.
“Kesiapan Indonesia tidak cukup diukur dari jumlah dan kestabilan jaringan 5G, stasiun pengisian daya, atau kondisi jalan misal termasuk standarisasi marka jalan,” ujarnya kepada Selular, Jumat (31/7/2026).
Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda
“Tetapi, masih ada beberapa fondasi yang jauh lebih penting untuk melihat kesiapannya,” sambung Yannes.
Pertama, regulasi harus menjelaskan siapa yang bertanggung jawab ketika kendaraan berbasis AI mengalami kecelakaan.
“Apakah pengemudi, produsen, penyedia software, atau pihak lain,” ungkap Yannes.
“Ini penting karena sekarang tampaknya semua saling lempar tanggung jawab dan konsumenlah yang jadi avalisnya,” sambungnya.
Kedua, tata kelola data kendaraan harus kuat karena mobil pintar akan mengumpulkan data lokasi, kamera (termasuk data privasi penumpang: audio-visual), kebiasaan pengguna, dan kondisi jalan dalam jumlah sangat besar.
“Big data sensitif ini perlu diproses dan dilindungi secara jelas di Indonesia. Hal ini sudah sangat urgent,” lanjutnya.
Baca juga:
- Pengamat Sebut Hal Ini Jika Ingin Mobil Listrik Asal Indonesia dan Teknologinya Berkembang
- Xiaomi Investasi di Startup Battery Swap untuk Mobil Listrik
Ketiga, sistem kelistrikan juga harus semakin pintar agar EV dapat terhubung dengan jaringan secara dua arah.
“Tetapi penerapan vehicle-to-grid masih membutuhkan kesiapan teknis, tarif listrik dinamis, dan standar yang seragam,” ungkapnya.
Jadi, dalam lima tahun ke depan, ukuran keberhasilannya bukan hanya banyaknya mobil pintar yang terjual.
“Tetapi bagaimana pemerintah menyusun roadmap, mengopersionalkan dan mengontrol regulasi, data, energi, dan kemampuan teknologinya juga harus ikut berkembang secara berdaulat,” tandas Yannes.


















































