Chip Memori Langka Buat Era HP Rp1 Jutaan Berakhir, IDC Katakan Ini

7 hours ago 10

Selular.ID – Era smartphone murah yang selama ini mendorong akses internet bagi masyarakat luas diprediksi segera berakhir.

Data menunjukkan pengiriman ponsel pintar di seluruh dunia diproyeksikan turun sebesar 13% sepanjang tahun 2026.

Penurunan tahunan ini adalah terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah industri ini.

Laju perlambatan penjualan terasa paling dalam di kawasan Afrika dan Timur Tengah dengan jumlah pengiriman diproyeksikan anjlok lebih dari 20%.

Berbeda dengan penurunan pasar sebelumnya yang biasanya disebabkan oleh pelemahan ekonomi atau pasar yang sudah jenuh, masalah kali ini berakar dari persaingan pasokan komponen utama HP, yaitu chip memori.

Seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), kebutuhan atas memori tipe DRAM melonjak drastis.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Baca juga:

Komponen ini, kini sangat dibutuhkan untuk melatih model kecerdasan buatan dan menjalankan layanan berbasis AI di data center raksasa.

Akibatnya, pasokan DRAM yang dulunya sebagian besar dialokasikan untuk pembuatan ponsel dan laptop kini beralih arah untuk mendukung pengembangan model bahasa besar (Large Language Model/LLM).

Menurut laporan dari International Data Corporation (IDC), pergeseran ini bukan masalah sementara, melainkan perubahan struktur yang mendasar di seluruh pasar teknologi global.

Dari sisi bisnis, produsen chip seperti Samsung dan SK Hynix juga lebih memilih memasok memori ke perusahaan pengembang AI.

Alasannya sederhana: sektor ini bersedia membayar harga jauh lebih tinggi, berbeda dengan pembuat ponsel yang harus menyesuaikan biaya demi menjaga harga jual tetap terjangkau bagi konsumen yang sensitif terhadap harga.

Perubahan Harga dan Spesifikasi HP Murah

Dampak pergeseran pasokan ini sudah mulai terlihat jelas pada produk ponsel kelas bawah yang biasa dijual dengan harga terjangkau (di bawah Rp 2 juta).

Dua tahun lalu, konsumen di segmen ini sudah bisa mendapatkan ponsel dengan memori RAM 4 GB hingga 6 GB dan penyimpanan internal 64 GB hingga 128 GB, cukup untuk menjalankan media sosial, aplikasi pesan, dan penjelajahan internet dengan lancar. Layarnya pun sudah umum menggunakan panel resolusi HD+ hingga Full HD.

Namun sepanjang tahun 2026, standar tersebut berubah drastis.

Karena alokasi komponen dibatasi, produsen terpaksa menurunkan spesifikasi agar tetap bisa menjual di kisaran harga yang sama atau justru menaikkan harga dengan spesifikasi yang setara.

Saat ini, ponsel baru di kelas harga terendah rata-rata hanya dilengkapi RAM 2 GB hingga 3 GB dan penyimpanan 32 GB saja – kapasitas yang kini terasa sangat terbatas untuk aplikasi masa kini.

Performa pemrosesan data menjadi lebih lambat, kemampuan kamera diturunkan kualitasnya, dan banyak fitur pendukung dipangkas.

Jika ingin mendapatkan spesifikasi yang setara dengan ponsel murah tahun 2024, konsumen kini harus merogoh kocek sekitar 30% hingga 40% lebih mahal.

Bahkan, ada indikasi bahwa dalam 12 ke depan, ponsel pintar baru dengan harga di bawah Rp 1,5 juta akan hilang sepenuhnya dari katalog produk resmi.

Masalahnya, penambahan kapasitas produksi DRAM tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Membangun satu pabrik DRAM berteknologi canggih memerlukan investasi raksasa, berkisar antara US$15 miliar hingga US$20 miliar, belum termasuk biaya peralatan dan penelitian.

Nilai investasi yang besar serta risiko bisnis yang tinggi membuat banyak perusahaan enggan masuk ke sektor ini.

Sejarah industri juga mencatat betapa sulitnya persaingan di bidang ini. Nama-nama besar seperti Intel, Texas Instruments, dan IBM pernah mencoba tetapi tertendang dari bisnis ini.

Perusahaan baru seperti Qimonda dan Elpida bangkrut karena tidak mampu bersaing.

Selain kendala biaya, pengembangan teknologi DRAM juga menghadapi hambatan teknis yang berat.

Teknologi ini makin sulit dikembangkan karena sudah mendekati batas fisik kemampuan komponen penyimpan daya.

Situasi ini diperkirakan memberikan dampak paling besar bagi HP murah, terutama di negara berkembang yang selama ini menjadi pusat pertumbuhan pengguna internet baru.

Bagi pengembang aplikasi, perubahan ini juga menuntut penyesuaian strategi bisnis, karena segmen pengguna ponsel murah yang selama ini menjadi target utama pasar diprediksi akan semakin menyusut jumlahnya.

Selama industri AI masih bersedia membayar harga tinggi untuk mendapatkan pasokan memori, harga DRAM dipastikan akan tetap mahal.

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |