Dari Dogiyai untuk Papua: Frater Siorus Degei Menyemai Budaya Menulis Berbasis Pengalaman dan Keberpihakan

21 hours ago 7

Dogiyai, 13 Februari 2026 – Menulis bukanlah bakat instan yang jatuh dari langit. Ia lahir dari proses panjang, disiplin, dan kedalaman refleksi. Pesan itulah yang mengemuka dalam sesi tanya jawab dan diskusi pada kegiatan Bedah Empat Buku Karya , yang digelar di Laboratorium Bahasa , Moanemani, Rabu (11/2).

Ratusan peserta yang didominasi pelajar dari berbagai SMP dan SMA di Dogiyai tampak antusias mengikuti diskusi yang dirancang sebagai ruang temu antara penulis dan pembaca. Dalam pemaparannya, Frater Siorus menegaskan bahwa menulis harus berangkat dari kedekatan spiritual—dengan Tuhan, ipuwee (roh pelindung diri, marga, dan kampung), serta para leluhur—sebagai sumber inspirasi dan kekuatan batin.

Ia mengenang pengalaman pertamanya menulis saat menempuh pendidikan di Seminari Menengah St. Fransiskus Asisi, Keuskupan Jayapura. Tugas menulis esai ilmiah sepuluh halaman dengan tulisan tangan menjadi proses pembentukan karakter: melatih disiplin, ketekunan, dan kesetiaan pada proses. Banyak yang menyerah, namun ia memilih bertahan.

Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur (STFT FT) Jayapura dan calon imam Katolik Projo Keuskupan Timika ini juga menyinggung tantangan era kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, AI memang memudahkan, tetapi berisiko melahirkan tulisan yang “cepat namun tidak bernyawa”.

“AI tidak punya kesadaran, perasaan, dan pengalaman hidup seperti manusia. Tulisan yang kuat lahir dari pengalaman personal dan perspektif yang jujur,” tegasnya.

Frater Siorus mendorong para siswa untuk mulai menulis dari hal-hal kecil dan pengalaman sehari-hari. Ia berbagi kebiasaan disiplin semasa di seminari: membaca setiap hari dan menulis refleksi dengan bahasa sendiri, lalu mempertanggungjawabkannya di depan komunitas. Kebiasaan ini, menurutnya, menjadi fondasi budaya menulis yang hingga kini masih lemah di tengah kuatnya budaya lisan di Papua.

Dalam karya-karyanya, ia memilih posisi yang jelas: menulis sebagai orang Papua yang mengalami ketidakadilan. “Saya tidak menulis sebagai frater atau pejabat, tetapi sebagai orang Papua yang hidup dalam realitas ketertindasan,” ujarnya. Kejelasan posisi dan keberpihakan, katanya, membuat tulisan memiliki arah dan daya gugah.

Ia juga membagikan empat kebiasaan praktis menulis: menulis diari harian, membuat ringkasan bacaan dan refleksi, mencatat kosakata baru lintas disiplin ilmu, serta menyusun catatan teori dan pemikiran tokoh sebagai rujukan intelektual. Jika kebiasaan ini dijalankan dengan disiplin, ia yakin penulis-penulis besar akan lahir dari Tanah Papua, termasuk dari Dogiyai.

Di akhir diskusi, Frater Siorus menegaskan bahwa menulis harus dilandasi motivasi yang murni. Bukan demi uang, nama, atau lomba, melainkan sebagai panggilan hati untuk menyuarakan kebenaran, keadilan, dan kebaikan bersama.

“Kita menulis karena ada realitas yang harus disuarakan. Bukan asal menulis,” pesannya.

[Nabire.Net]

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |