Erupsi Anak Krakatau Terpantau Satelit: Hujan Abu Meluas hingga Bandara Ditutup

6 hours ago 5

Selular.ID – Profesor Riset di Pusat Penelitian Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, membeberkan analisis terkait aktivitas erupsi eksplosif Gunung Api Anak Krakatau yang memicu sebaran abu vulkanik masif.

Sebagai informasi, letusan Gunung Api Anak Krakatau berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) malam pukul 23:07 WIB hingga Sabtu (5/9/2026) pagi pukul 04:40 WIB.

Aktivitas ini terjadi setelah peningkatan status gunung tersebut yang kembali aktif sejak Juli 2026.

Dalam unggahan di akun X personalnya, Erma membeberkan pantauan citra satelit yang menunjukkan material letusan Gunung Api Anak Krakatau membentuk kolom awan tebal yang bergerak ke arah barat dengan bentangan mencapai 851 kilometer, mencakup wilayah hingga Pulau Enggano.

Baca juga:

Besarnya volume material yang terpantau jelas secara visual menandakan skala letusan yang sangat signifikan.

Simulasi atmosfer menunjukkan bahwa erupsi ini melontarkan kolom letusan yang sangat tinggi, dengan estimasi mencapai 13 hingga 14 kilometer.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Ketinggian tersebut bahkan menyentuh lapisan tropopause, batas atas troposfer yang memungkinkan material vulkanik tersebar luas ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi.

Menurut Erma, meskipun sebaran utama saat ini didominasi ke arah barat, dinamika cuaca lokal tetap patut diwaspadai.

Pada waktu-waktu tertentu, kombinasi tekanan rendah di Banten serta hembusan angin laut yang kuat berpotensi menarik sebaran awan piroklastik ini mengarah ke wilayah Serang, Banten, dan sekitarnya.

Abu Vulkanik ke Sumatera dan Jawa

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau memicu sebaran material abu yang bergerak ke berbagai arah dengan cakupan wilayah yang cukup luas.

Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin, serta analisis citra RGB Himawari-9, yang dikutip dari unggahan media sosial BMKG, Minggu (6/9/2026), terpantau adanya dua klaster utama sebaran abu vulkanik di atmosfer:

  • Lapisan Bawah (Hingga 20.000 ft): Sebaran abu vulkanik teramati bergerak mengarah ke timur-selatan, yang mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya.
  • Lapisan Atas (Hingga 50.000 ft): Sebaran abu terpantau membentang ke arah barat daya-barat laut, meliputi sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, perairan selatan Selat Sunda, hingga kawasan Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten.

Sementara itu, dari sisi klimatologi, prakiraan cuaca di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau untuk periode 6-8 September 2026 secara umum diprakirakan cerah hingga berawan.

Pergerakan angin didominasi dari arah timur hingga tenggara dengan kisaran kecepatan mencapai 31-37 km per jam.

Menghadapi kondisi tersebut, otoritas terkait mengimbau kepada seluruh masyarakat serta para pelaku sektor transportasi yang beraktivitas di wilayah terdampak agar senantiasa meningkatkan kewaspadaan dan proaktif memantau perkembangan informasi resmi dari BMKG serta instansi berwenang lainnya.

Bandara Ditutup

Imbas erupsi ini, Bandara Soekarno-Hatta juga ditutup hingga pukul 09:30 WIB yang berdampak pada 22.798 penumpang.

Di balik gangguan operasional penerbangan dan kualitas udara yang ditimbulkannya, erupsi ini turut membawa dampak alami bagi iklim global:

  • Pemicu Kondensasi Hujan: Awan abu panas yang mengandung sulfur oksida dan membentuk awan pyrocumulus dapat bertindak sebagai aerosol serta inti kondensasi awan. Jika didukung oleh suplai uap air yang memadai dari Samudra Hindia (kondisi tidak terjadi IOD positif), fenomena ini berpotensi memicu terjadinya hujan.
  • Penyejuk Suhu Atmosfer: Pelepasan sulfur dalam jumlah masif ke atmosfer secara alami berfungsi mendinginkan temperatur global. Partisikel aerosol sulfur ini mampu memantulkan kembali radiasi matahari ke ruang angkasa, sehingga berperan dalam meredam laju pemanasan global (global warming).
Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |