Laporan F5: 78% Perusahaan Jalankan AI sebagai Operasi Inti

11 hours ago 10

Selular.ID – F5 merilis laporan tahunan State of Application Strategy (SOAS) 2026 yang menunjukkan bahwa kecerdasan buatan (AI) telah beralih dari tahap eksperimen menjadi bagian inti operasional perusahaan.

Dalam riset tersebut, 78% organisasi secara global menyatakan telah menjalankan AI inference secara mandiri, sementara di kawasan Asia Pasifik, China, dan Jepang (APCJ) angkanya mencapai 50%.

Laporan yang dipublikasikan pada 9 Juni 2026 itu disusun berdasarkan tanggapan ratusan pemimpin IT dan keamanan korporasi di berbagai negara.

Temuan F5 menyoroti perubahan besar dalam cara perusahaan mengelola aplikasi, infrastruktur cloud, hingga keamanan digital di era AI generatif dan agentic AI, yakni sistem AI otonom yang dapat bertindak layaknya pengguna manusia.

Menurut Kunal Anand, Chief Product Officer F5, perusahaan kini menghadapi tantangan baru karena AI inference sudah diperlakukan seperti workload produksi lainnya yang membutuhkan keandalan, skalabilitas, dan tata kelola ketat.

“AI telah berubah dari tahap eksperimentasi ke tahap operasional. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah perusahaan akan menggunakan AI, melainkan apakah mereka dapat menjalankannya secara andal, aman, dan dalam skala besar,” ujar Kunal Anand dalam keterangan resmi F5.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Sementara itu, Surung Sinamo, Country Manager F5 Indonesia, mengatakan tantangan perusahaan saat ini tidak hanya menjalankan model AI, tetapi juga mengamankan lalu lintas AI inference, mengelola identitas agen AI, dan memastikan kebijakan keamanan konsisten di seluruh lingkungan hybrid multicloud.

AI inference kini dominan di tahap produksi

F5 mencatat organisasi global rata-rata mengoperasikan tujuh model AI dalam tahap produksi.

Sebanyak 77% responden menyebut inference — proses menjalankan model AI yang telah dilatih untuk menghasilkan output — menjadi aktivitas AI paling dominan dibandingkan pelatihan model atau pengembangan awal.

Di kawasan APCJ, perusahaan rata-rata menggunakan 3–4 model AI dalam produksi, dan 65% organisasi memanfaatkan AI untuk otomatisasi operasional secara real-time.

Pergeseran ini membuat AI tidak lagi diposisikan sebagai proyek inovasi terpisah, melainkan terintegrasi langsung ke dalam aplikasi dan proses bisnis harian.

Multicloud dan hybrid jadi fondasi operasional AI

Laporan SOAS 2026 juga menegaskan bahwa hybrid multicloud telah menjadi standar baru dalam penyediaan aplikasi dan AI.

Secara global, 93% organisasi menjalankan lingkungan multicloud, sementara 86% aplikasi didistribusikan di kombinasi data center on-premises, public cloud, dan colocation.

Di kawasan APCJ, 91% organisasi masih mengoperasikan beberapa data center on-premises dan 87% menggunakan lebih dari satu layanan colocation.

Kondisi ini menciptakan kompleksitas baru dalam routing trafik, mekanisme fallback, hingga penegakan kebijakan keamanan antar lingkungan cloud.

F5 menilai perusahaan membutuhkan strategi penyediaan dan keamanan yang terpadu agar workload AI dapat berjalan konsisten tanpa menimbulkan blind spot operasional.

Strategi AI-as-a-service mulai dianggap berisiko

Menariknya, laporan tersebut menunjukkan pendekatan AI-as-a-service murni mulai ditinggalkan banyak perusahaan besar. Hanya 8% organisasi global yang sepenuhnya bergantung pada layanan AI publik.

Sebagian besar perusahaan kini membangun portofolio model AI yang lebih beragam dan menjalankannya sendiri demi mendapatkan kontrol lebih baik atas biaya, akurasi, kinerja, dan kepatuhan data.

Pendekatan ini juga memungkinkan perusahaan menentukan lokasi pemrosesan data AI sesuai kebutuhan regulasi dan keamanan internal.

Keamanan AI bergeser ke layer prompt dan token

Salah satu temuan penting lainnya adalah perubahan titik kendali keamanan AI. F5 menyebut perimeter keamanan tradisional tidak lagi cukup karena interaksi AI kini banyak terjadi pada level prompt, token, API, dan identitas digital.

Sebanyak 88% organisasi global mengaku telah menghadapi tantangan keamanan terkait AI. Sementara itu, 98% responden sedang mempersiapkan adopsi agentic AI yang membutuhkan sistem identitas, hak akses, dan guardrails seperti pengguna manusia.

Di kawasan APCJ, 54% organisasi menyebut tingginya biaya workload AI sebagai tantangan utama, dan 51% mengantisipasi lonjakan identitas agen AI seiring pertumbuhan agentic AI.

F5 juga mencatat 29% organisasi global menganggap layer prompt sebagai mekanisme penyediaan AI utama, sedangkan 23% memprioritaskan layer token untuk penyediaan dan keamanan AI.

Artinya, pengelolaan prompt dan token kini menjadi bagian strategis dalam optimasi biaya, performa, dan keamanan sistem AI perusahaan.

AI maturity jadi indikator daya saing perusahaan

Melalui laporan SOAS 2026, F5 menilai tingkat kematangan AI atau AI maturity akan menjadi indikator penting bagi ketahanan operasional dan daya saing perusahaan ke depan.

Organisasi yang mampu membangun observability, autentikasi, serta kontrol terpadu di seluruh lingkungan AI dinilai lebih siap mengubah investasi AI menjadi nilai bisnis jangka panjang.

Laporan ini sekaligus memperlihatkan bahwa transformasi AI kini tidak lagi hanya soal memilih model AI terbaik, tetapi juga menyangkut kesiapan infrastruktur jaringan, tata kelola cloud, dan strategi keamanan aplikasi secara menyeluruh.

Baca Juga: Telkom dan F5 Kembangkan AI-Secure Connectivity di Indonesia

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |