Selular.id – Qualcomm baru saja mengambil langkah strategis besar dengan merekrut Jason Banta, mantan eksekutif senior dari AMD, untuk memimpin divisi komputasi mobile mereka.
Penunjukan ini bertujuan untuk mempercepat adopsi dan pengembangan chipset Snapdragon X Series di pasar laptop global yang kini tengah bertransformasi menuju era kecerdasan buatan.
Jason Banta, yang sebelumnya menjabat sebagai Corporate Vice President di AMD, kini memegang peran sebagai Senior Vice President dan General Manager of Compute di Qualcomm guna memastikan ekosistem Windows on Arm semakin kompetitif melawan dominasi prosesor tradisional.
Langkah ini dilakukan Qualcomm saat perusahaan sedang berada di puncak momentum peluncuran Snapdragon X Elite dan Snapdragon X Plus. Kehadiran Banta diharapkan mampu membawa perspektif baru dalam membangun hubungan yang lebih erat dengan para produsen perangkat asli (OEM) seperti ASUS, HP, Dell, dan Lenovo.
Pengalamannya selama bertahun-tahun di AMD, terutama dalam mengelola lini prosesor konsumen, menjadi aset berharga bagi Qualcomm yang kini berambisi menggeser peta persaingan chipset PC yang selama ini dikuasai oleh arsitektur x86 milik Intel dan AMD.
Hadirnya sosok baru di kursi kepemimpinan ini bukan tanpa alasan kuat. Qualcomm menyadari bahwa untuk memenangkan pasar laptop, mereka tidak hanya membutuhkan performa perangkat keras yang kencang, tetapi juga ekosistem perangkat lunak dan dukungan industri yang solid.
Banta memiliki rekam jejak panjang dalam menavigasi dinamika pasar semikonduktor, yang akan sangat krusial bagi Qualcomm dalam meyakinkan lebih banyak vendor laptop untuk beralih menggunakan platform Snapdragon untuk produk kelas atas hingga menengah mereka.
Ambisi Qualcomm dalam pasar komputasi memang sedang membara. Selama beberapa dekade, Qualcomm dikenal sebagai penguasa mutlak di pasar ponsel pintar melalui lini Snapdragon-nya. Namun, pasar laptop adalah arena yang berbeda dengan kompleksitas kompatibilitas aplikasi yang jauh lebih tinggi.
Melalui arsitektur Oryon yang ditanamkan pada Snapdragon X Series, Qualcomm menjanjikan efisiensi daya yang luar biasa tanpa mengorbankan performa, sebuah proposisi nilai yang sebelumnya sangat sulit dicapai oleh laptop berbasis Windows.
Strategi perekrutan talenta dari kompetitor ini sebenarnya merupakan bagian dari dinamika bisnis yang lumrah di Lembah Silikon, namun perpindahan Banta terasa sangat signifikan mengingat posisinya yang strategis di AMD.
Di bawah kepemimpinannya, Qualcomm berencana untuk tidak hanya terpaku pada segmen laptop premium, tetapi juga mulai merambah ke perangkat yang lebih terjangkau. Hal ini tecermin dari rencana pengembangan varian chipset yang lebih luas untuk menjangkau berbagai titik harga di pasar global.
Selain fokus pada performa komputasi murni, Qualcomm di bawah kendali manajemen baru ini juga akan memperkuat kemampuan Neural Processing Unit (NPU).
Komponen ini merupakan otak di balik fitur-fitur kecerdasan buatan (AI) yang kini menjadi standar baru di industri laptop melalui kategori Copilot+ PC.
Dengan NPU yang mampu memproses hingga puluhan triliun operasi per detik (TOPS), Qualcomm ingin memastikan bahwa laptop yang ditenagai Snapdragon X tetap menjadi pilihan utama bagi pengguna yang membutuhkan produktivitas tinggi dengan asisten AI yang responsif secara lokal di perangkat.
Pergeseran kepemimpinan ini juga membawa harapan besar bagi pengembangan driver dan optimalisasi sistem operasi. Salah satu tantangan terbesar platform Arm di Windows adalah bagaimana menjalankan aplikasi lama dengan lancar melalui emulasi.
Jason Banta diharapkan dapat menjembatani kebutuhan antara pengembangan silikon dengan kebutuhan perangkat lunak para pengembang aplikasi pihak ketiga. Keberhasilan transisi ini akan menentukan apakah Snapdragon X bisa menjadi standar industri yang permanen atau hanya sekadar tren sesaat di pasar PC.
Keberadaan tim kepemimpinan yang lebih kuat diprediksi akan mempercepat siklus peluncuran produk baru Qualcomm di masa depan. Persaingan di industri semikonduktor kini tidak hanya soal siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang mampu membangun ekosistem paling stabil dan hemat energi.
Dengan rekrutmen ini, Qualcomm seolah memberikan sinyal bahwa mereka siap bertempur secara frontal di pasar laptop, memanfaatkan celah efisiensi yang selama ini menjadi kelemahan prosesor konvensional.
Ke depannya, fokus industri akan tertuju pada bagaimana sinergi antara visi Qualcomm dan keahlian operasional Jason Banta membuahkan hasil pada lini produk tahun 2025 dan seterusnya.
Transformasi ini kemungkinan besar akan memicu respon kompetitif dari para pesaing, yang pada akhirnya akan menguntungkan konsumen dengan pilihan perangkat yang lebih beragam, lebih dingin, dan memiliki daya tahan baterai yang jauh lebih lama.
Pertumbuhan pasar PC berbasis AI akan menjadi ujian sesungguhnya bagi tim baru Qualcomm ini dalam membuktikan bahwa masa depan komputasi memang berada di tangan arsitektur yang lebih efisien.
Baca juga : Qualcomm Bawa Android ke Laptop dengan Chipset Snapdragon X












































