Rudiantara Ungkap Risiko Besar di Balik Ledakan AI

19 hours ago 18

Selular.ID – Dampak perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang dinilai dapat menjadi pedang bermata dua dalam perekonomian digital.

Hal tersebut diungkapkan Rudiantara, Komisaris Utama Amartha sekaligus mantan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) menyoroti

Menurutnya, teknologi AI berpotensi mempercepat produktivitas dan efisiensi bisnis, namun di sisi lain juga dapat memperlebar kesenjangan ekonomi jika tidak diimbangi dengan peningkatan literasi digital masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan Rudiantara dalam sebuah diskusi terkait perkembangan teknologi AI dan dampaknya terhadap inklusi ekonomi.

Ia menekankan bahwa pemanfaatan AI sudah mulai terasa di berbagai sektor, mulai dari kesehatan, layanan keuangan, hingga industri berbasis data yang kini semakin mengandalkan otomatisasi dan analitik cerdas.

Dalam sektor kesehatan, Rudiantara mencontohkan bagaimana teknologi AI memungkinkan proses diagnosis awal dilakukan secara lebih cepat melalui pemanfaatan kamera dan sistem berbasis algoritma.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Hal ini memperlihatkan bagaimana AI dapat meningkatkan efisiensi layanan, terutama di wilayah dengan keterbatasan akses tenaga medis.

Namun demikian, ia menilai kesiapan masyarakat menjadi faktor penting dalam menentukan sejauh mana manfaat AI dapat dirasakan secara merata.

Menurutnya, kesenjangan tidak hanya terjadi pada sisi akses teknologi, tetapi juga pada kemampuan masyarakat dalam memahami cara kerja dan risiko dari layanan digital yang digunakan sehari-hari.

Rudiantara menyoroti masih adanya gap antara tingkat inklusi keuangan digital dan literasi keuangan digital di masyarakat.

Kondisi ini, menurutnya, terlihat dari meningkatnya penggunaan layanan pinjaman daring (pinjol) tanpa diimbangi pemahaman yang memadai terkait konsekuensi pembayaran dan risiko bunga.

“Jangan hanya inklusi yang tinggi, tapi literasinya tertinggal. AI dan teknologi digital itu harus dibarengi dengan pemahaman masyarakat. Etika juga penting dalam pemanfaatan AI,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa perkembangan AI tidak dapat dilepaskan dari aspek etika dan literasi digital. Tanpa pemahaman yang memadai, teknologi berpotensi menciptakan ketimpangan baru, terutama bagi kelompok masyarakat yang belum sepenuhnya siap beradaptasi dengan perubahan digital yang cepat.

Dalam konteks ekonomi digital Indonesia, peran literasi dinilai menjadi kunci untuk memastikan teknologi tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu.

Perkembangan layanan berbasis AI, fintech, hingga platform digital lainnya membutuhkan pemahaman yang setara agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas.

Rudiantara juga menilai bahwa ekosistem digital Indonesia saat ini berada pada fase penting, di mana inovasi teknologi berkembang pesat namun masih memerlukan penguatan dari sisi edukasi publik.

Ia menekankan perlunya kolaborasi antara pelaku industri, regulator, dan masyarakat untuk memastikan teknologi seperti AI dapat digunakan secara bertanggung jawab.

Dengan semakin luasnya penerapan AI di berbagai sektor, isu kesenjangan digital diperkirakan akan menjadi salah satu tantangan utama dalam beberapa tahun ke depan.

Baca Juga:Surge Klaim Internet Rakyat Tersebar di 82 Kota dan Kabupaten

Di sisi lain, peluang peningkatan produktivitas dan efisiensi ekonomi juga terbuka lebar apabila literasi digital masyarakat dapat ditingkatkan secara merata.

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |