Tren Ponsel Lipat Bergeser, Konsumen Mulai Tinggalkan Model Flip demi Tipe Fold

16 hours ago 9

Selular.id – Pasar ponsel lipat global diprediksi bakal mengalami pergeseran peta kekuatan yang signifikan mulai tahun 2026.

Selama beberapa tahun terakhir, model clamshell atau yang lebih akrab dikenal sebagai tipe Flip mendominasi angka penjualan karena harganya yang lebih terjangkau dan bentuknya yang ringkas.

Namun, laporan terbaru menunjukkan bahwa minat konsumen mulai beralih secara masif ke perangkat lipat model buku atau tipe Fold yang menawarkan produktivitas lebih tinggi melalui layar yang lebih luas.

Dinamika industri ini menandai berakhirnya masa “bulan madu” bagi ponsel model Flip. Sejak Samsung mempopulerkan Galaxy Z Flip, kategori ini menjadi pintu masuk bagi banyak pengguna untuk mencicipi teknologi layar lipat tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.

Namun, seiring dengan matangnya teknologi engsel dan semakin tipisnya panel layar, perangkat tipe Fold kini dipandang sebagai investasi yang lebih logis bagi pengguna kelas atas yang menginginkan fungsi tablet dalam saku mereka.

Beberapa analis industri melihat bahwa kejenuhan terhadap desain Flip mulai muncul. Meskipun modis, keterbatasan ruang layar dan daya tahan baterai yang biasanya lebih kecil dibandingkan model Fold menjadi pertimbangan utama.

Di sisi lain, produsen ponsel kini semakin gencar meluncurkan perangkat Fold yang lebih ringan dan ramping, bahkan beberapa di antaranya mulai mendekati ketebalan ponsel standar saat dalam kondisi terlipat.

Laporan dari Samsung Securities menyoroti bahwa pada tahun 2026, volume pengiriman untuk model Fold diproyeksikan akan melampaui model Flip untuk pertama kalinya.

Hal ini merupakan perubahan besar, mengingat saat ini rasio penjualan antara Flip dan Fold masih sangat jomplang dengan keunggulan di sisi Flip.

Transformasi ini didorong oleh strategi para vendor yang mulai menekan harga produksi komponen layar besar, sehingga selisih harga antara kedua model tersebut tidak lagi sejauh beberapa tahun lalu.

Persaingan di segmen Fold juga semakin panas dengan masuknya berbagai pemain dari Tiongkok yang menawarkan inovasi perangkat keras yang sangat agresif.

Vendor seperti Huawei, Honor, dan Xiaomi telah membuktikan bahwa mereka mampu membuat perangkat lipat tipe buku dengan bodi yang sangat tipis dan kemampuan kamera yang setara dengan ponsel flagship konvensional.

Tekanan kompetisi ini memaksa pemimpin pasar seperti Samsung untuk terus berinovasi agar tidak kehilangan momentum di segmen premium tersebut.

Selain faktor desain, aspek fungsionalitas menjadi motor penggerak utama. Pengguna kini lebih banyak menghabiskan waktu untuk konsumsi konten multimedia, multitasking pekerjaan, hingga bermain game yang membutuhkan visual luas.

Layar internal pada tipe Fold memberikan pengalaman yang tidak bisa diberikan oleh model Flip, yang secara fungsionalitas layar utamanya tidak jauh berbeda dengan ponsel pintar pada umumnya.

Sektor perangkat lunak juga memainkan peran krusial dalam transisi ini. Google melalui sistem operasi Android telah melakukan banyak optimasi untuk perangkat layar lebar, termasuk fitur taskbar dan pembagian layar yang lebih intuitif.

Pengembang aplikasi pihak ketiga pun kini lebih serius mengoptimalkan tata letak aplikasi mereka untuk rasio layar persegi yang dimiliki tipe Fold, membuat perangkat ini semakin relevan untuk kebutuhan profesional sehari-hari.

Rencana Apple untuk masuk ke pasar perangkat lipat juga disebut-sebut menjadi katalisator pergeseran tren ini. Rumor yang beredar di rantai pasokan menunjukkan bahwa raksasa teknologi asal Cupertino tersebut lebih tertarik mengembangkan perangkat lipat berukuran besar, baik itu dalam bentuk iPhone Fold atau iPad lipat.

Kehadiran Apple di segmen ini diprediksi akan langsung mengubah standar pasar dan mempercepat adopsi perangkat lipat layar besar secara global.

Melihat ke depan, masa depan ponsel lipat tidak lagi hanya soal keunikan bentuk yang bisa ditekuk, melainkan tentang nilai tambah apa yang bisa didapatkan pengguna dari layar tambahan tersebut.

Meskipun model Flip tidak akan hilang sepenuhnya, posisinya kemungkinan besar akan bergeser menjadi produk gaya hidup di kelas menengah-atas, sementara tipe Fold akan mengukuhkan posisinya sebagai standar baru bagi perangkat komunikasi masa depan yang serba bisa.

Produsen yang mampu menyeimbangkan antara ketahanan perangkat, fungsionalitas software, dan harga yang kompetitif akan menjadi pemenang dalam perebutan takhta pasar ponsel lipat di tahun-tahun mendatang.

Baca juga : Counterpoint Research Prediksi Pasar Smartphone Lipat Masuki Fase Baru di 2026

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |