BMKG Ungkap Penyebab Nabire Tak Diguyur Hujan, El Nino Diprediksi Bertahan hingga Akhir 2026, Imbau Waspada Karhutla

14 hours ago 3

Nabire, Warga Nabire, Papua Tengah, belakangan ini mengeluhkan cuaca yang semakin panas akibat minimnya hujan. Kondisi tersebut dinilai mulai mengganggu berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari pekerjaan di luar ruangan hingga aktivitas sehari-hari. Banyak warga berharap hujan segera turun agar suhu udara kembali lebih sejuk.

Menanggapi keluhan masyarakat tersebut, Nabire.Net mewawancarai Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Douw Aturure Nabire, Rabu (29/7/2026). BMKG menjelaskan bahwa kondisi cuaca kering yang terjadi saat ini dipengaruhi oleh dua fenomena atmosfer yang berlangsung secara bersamaan, yakni El Nino dan Monsun Australia.

Prakirawan Cuaca BMKG Stasiun Meteorologi Douw Aturure Nabire, Danni Wiai, mengatakan bahwa El Nino merupakan fenomena meningkatnya suhu permukaan laut di wilayah Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Dampaknya, aliran udara yang biasanya membawa banyak uap air dari wilayah Indonesia bergerak menuju Pasifik Timur sehingga mengurangi pembentukan awan hujan di Indonesia.

“Saat ini sedang berlangsung fenomena El Nino. Fenomena ini merupakan naiknya suhu permukaan laut di wilayah Samudra Pasifik bagian tengah dan timur sehingga aliran udara dari wilayah Indonesia bergerak ke arah Pasifik Timur,” jelas Danni.

Selain El Nino, kondisi musim kemarau juga diperkuat oleh menguatnya Angin Monsun Australia. Fenomena ini terjadi karena posisi Matahari saat ini berada di Belahan Bumi Utara sehingga angin musiman bertiup dari Australia menuju Asia.

Menurut BMKG, angin yang berasal dari Australia memiliki karakteristik kering karena melewati wilayah gurun yang luas dan hanya melintasi perairan sempit sebelum mencapai Indonesia. Akibatnya, angin tersebut membawa sedikit kandungan uap air sehingga menjadi penyebab utama musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia setiap periode April hingga Oktober.

“Karena El Nino dan Monsun Australia terjadi secara bersamaan, keduanya saling menguatkan sehingga musim kemarau menjadi lebih panjang dibandingkan kondisi normal,” ujar Danni.

BMKG memperkirakan fenomena El Nino masih akan bertahan hingga akhir tahun 2026, sementara dampaknya diprediksi masih dapat dirasakan hingga awal tahun 2027.

Papua Tengah dan Nabire Ikut Terdampak

BMKG menyebut Papua Tengah, termasuk Kabupaten Nabire, turut merasakan dampak dari kedua fenomena tersebut. Kondisi ini menyebabkan jumlah hari tanpa hujan menjadi lebih lama dibandingkan biasanya. Selain itu, udara akan terasa lebih panas dan lebih kering.

Berdasarkan hasil analisis BMKG, hujan masih berpotensi turun di wilayah Papua Tengah, tetapi jumlah curah hujannya diperkirakan berkurang drastis dibandingkan kondisi normal. Sebagian besar hujan diprediksi lebih sering terjadi di wilayah pegunungan.

Sementara itu, untuk wilayah Kabupaten Nabire, peluang hujan relatif lebih tinggi di sejumlah distrik seperti Siriwo, Uwapa, Dipa, dan Menou dengan intensitas ringan hingga sedang.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena dapat berdampak terhadap berbagai sektor, termasuk pertanian, ketersediaan air bersih, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan apabila cuaca kering berlangsung dalam waktu yang lama.

BMKG Imbau Warga Waspada Karhutla

Seiring meningkatnya potensi musim kemarau berkepanjangan, BMKG mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Masyarakat diminta tidak melakukan pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara membakar. Apabila menemukan titik api maupun indikasi kebakaran, warga diharapkan segera melaporkannya kepada instansi terkait agar dapat ditangani sejak dini dan tidak meluas.

BMKG juga membuka layanan informasi cuaca bagi masyarakat melalui layanan WhatsApp Stasiun Meteorologi Douw Aturure Nabire. Petugas siap memberikan informasi prakiraan cuaca maupun kondisi atmosfer terkini sesuai kebutuhan masyarakat.

Dengan masih berlangsungnya El Nino hingga akhir tahun serta menguatnya Monsun Australia, masyarakat Nabire diharapkan dapat menyesuaikan aktivitas dan meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau yang diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

[Nabire.Net]

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |