Bupati Deiyai dan MRP Papua Tengah Tinjau Pembangunan Pasar Mama-Mama Papua, Diharapkan Jadi Penggerak Ekonomi OAP

11 hours ago 5

Deiyai, Pemerintah Kabupaten Deiyai terus memperkuat implementasi Undang-Undang Otonomi Khusus (Otsus) Papua melalui pembangunan infrastruktur yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Salah satu proyek yang menjadi perhatian adalah pembangunan Pasar Mama-Mama Papua di Waghete, Kabupaten Deiyai, yang ditinjau langsung oleh Bupati Deiyai, Melkianus Mote, S.T., bersama Tim Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua Tengah pada Selasa (4/8/2026).

Kunjungan tersebut dilakukan di sela rangkaian kegiatan Sosialisasi Undang-Undang Otonomi Khusus yang digelar MRP Papua Tengah di Kabupaten Deiyai. Peninjauan lapangan menjadi bagian penting untuk memastikan bahwa penggunaan Dana Otsus benar-benar diwujudkan melalui program yang memberi manfaat nyata bagi Orang Asli Papua (OAP).

Sebelum turun ke lokasi pembangunan, Tim MRP Papua Tengah terlebih dahulu menggelar koordinasi bersama Pemerintah Kabupaten Deiyai. Dalam pertemuan itu, Bupati Melkianus Mote mengajak rombongan melihat secara langsung berbagai proyek strategis yang dibiayai melalui Dana Otsus, termasuk Pasar Mama-Mama Papua yang saat ini masih dalam tahap pembangunan.

Menurut pemerintah daerah, pasar tersebut diproyeksikan menjadi pusat aktivitas ekonomi bagi mama-mama Papua yang selama ini menjalankan usaha kecil dan perdagangan tradisional. Kehadiran fasilitas baru ini diharapkan mampu memberikan ruang usaha yang lebih layak, aman, dan nyaman sehingga aktivitas ekonomi masyarakat dapat berkembang secara berkelanjutan.

Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Perempuan MRP Papua Tengah sekaligus Ketua Tim Sosialisasi Otsus, Debora Mote, memberikan apresiasi atas langkah Pemerintah Kabupaten Deiyai yang memilih membangun sarana ekonomi produktif dibandingkan program yang hanya memberikan manfaat sesaat.

Menurut Debora, pembangunan fasilitas publik seperti pasar merupakan implementasi nyata dari semangat Otonomi Khusus karena manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.

“Pemberdayaan masyarakat itu yang seperti ini. Kalau Pak Bupati membagikan uang, hanya beberapa orang yang merasakan dan manfaatnya pun hanya sebentar. Akhirnya orang mengatakan Otonomi Khusus gagal karena pembangunan fisik yang memberikan manfaat jangka panjang seperti ini tidak dibuat,” ujarnya.

Ia juga mengaku pembangunan Pasar Mama-Mama Papua merupakan salah satu bentuk perhatian yang selama ini dinantikan para pedagang perempuan Papua. Selama beberapa periode menjadi anggota MRP, Debora mengaku baru kali ini melihat adanya kepala daerah yang secara serius membangun fasilitas khusus bagi mama-mama Papua.

Menurutnya, keberadaan pasar tersebut menjadi jawaban atas kebutuhan masyarakat untuk memperoleh tempat berjualan yang lebih representatif tanpa meninggalkan karakter budaya lokal.

Sementara itu, Bupati Deiyai Melkianus Mote menegaskan bahwa pembangunan Pasar Mama-Mama Papua ditargetkan selesai pada tahun 2026, selama proses pengerjaan berjalan tanpa hambatan.

“Kalau tidak ada kendala, dalam tahun ini akan selesai,” kata Melkianus.

Ia menjelaskan bahwa pembangunan pasar tersebut merupakan bagian dari program prioritas pemerintah daerah yang juga mendapat perhatian dalam berbagai pembahasan bersama DPR Otsus. Karena itu, desain bangunan tidak dibuat secara umum, melainkan disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat Deiyai.

Konsep pasar dirancang mengikuti kebiasaan mama-mama Papua yang selama ini berjualan di pasar tradisional. Tata ruang dan bentuk bangunan dibuat lebih kontekstual agar tetap nyaman digunakan oleh para pedagang tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya yang sudah melekat dalam aktivitas jual beli masyarakat.

“Desain pasar ini sangat kontekstual dengan budaya di Deiyai. Bentuknya nanti dibuat berlantai seperti mama-mama biasa berjualan di pasar yang lama,” jelas Bupati.

Pendekatan tersebut diharapkan mampu menciptakan fasilitas ekonomi yang modern namun tetap mempertahankan identitas budaya lokal. Selain meningkatkan kenyamanan pedagang, pasar juga diharapkan mampu menarik lebih banyak aktivitas ekonomi masyarakat sehingga berdampak pada peningkatan pendapatan keluarga.

Dalam perspektif pembangunan daerah, keberadaan Pasar Mama-Mama Papua tidak hanya berfungsi sebagai pusat perdagangan, tetapi juga menjadi simbol keberpihakan pemerintah terhadap pemberdayaan ekonomi Orang Asli Papua. Program ini dinilai sejalan dengan tujuan utama Otonomi Khusus yang menekankan perlindungan, pemberdayaan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Papua melalui pembangunan yang berkelanjutan.

Peninjauan pasar dilakukan setelah rombongan menghadiri peletakan batu pertama pembangunan Asrama SMPTK YPPGI Trotman Baida di Gakokebo. Usai meninjau pasar, rombongan kembali melanjutkan kunjungan ke lokasi pembangunan Galeri Budaya Kabupaten Deiyai sebagai bagian dari agenda monitoring pembangunan berbasis Dana Otsus.

Dalam kegiatan tersebut turut hadir Asisten II Setda Deiyai Mesak Pakage, S.Sos., Asisten III Setda Deiyai Daniel Bunai, S.T., para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta jajaran MRP Papua Tengah yang terdiri atas Debora Mote, Beni Wenior Pakage, S.H., M.H., Meliana Edowai, Yakobus Takimai, dan Thomas Mutaweyau.

Pemerintah Kabupaten Deiyai berharap seluruh proyek yang didanai melalui Otonomi Khusus dapat selesai sesuai target sehingga manfaatnya segera dirasakan masyarakat. Kehadiran Pasar Mama-Mama Papua diharapkan menjadi salah satu tonggak penguatan ekonomi lokal sekaligus membuktikan bahwa Dana Otsus dapat diwujudkan dalam program yang memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan Orang Asli Papua.

[Nabire.Net]

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |