Paniai, Semangat persatuan dan toleransi mewarnai penyelenggaraan Lomba Vokal Grup Antar Gereja se-Kota Enarotali–Madi yang digelar Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Paniai bekerja sama dengan Gereja Oikumene GPdI Jemaat Anthiokia Enarotali, Jumat (30/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus menjadi wadah mempererat hubungan antarumat beragama di Kabupaten Paniai.
Acara berlangsung meriah dengan dihadiri sekitar 300 peserta dan tamu undangan. Hadir dalam kegiatan tersebut unsur pemerintah daerah, TNI-Polri, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta jemaat dari berbagai denominasi gereja. Sejak pembukaan hingga pengumuman pemenang, suasana penuh sukacita, kebersamaan, dan semangat nasionalisme terlihat begitu kuat.
Sebanyak 11 grup vokal ambil bagian dalam kompetisi tersebut. Mereka berasal dari berbagai gereja yang ada di wilayah Enarotali dan Madi, di antaranya GPdI Anthiokia Enarotali, GKI Zaitun Enarotali, Kingmi Eklesia Enarotali, Kingmi Anthiokia Bahasa Indonesia, Kingmi El-Shadai Madi, Gereja Touye Papa, Kingmi Kanaan Bermazmur, Paroki St. Yosef Enarotali, Paroki Salib Suci Madi, Kingmi Anthiokia Bahasa Mee, serta Stasi Timida.
Dalam perlombaan, setiap grup diwajibkan membawakan dua lagu. Lagu pertama merupakan lagu wajib berjudul “Tanah Papua”, sedangkan lagu kedua merupakan lagu rohani pilihan masing-masing peserta. Penilaian dilakukan oleh dewan juri berdasarkan kualitas vokal, harmonisasi, teknik bernyanyi, penghayatan lagu, serta penampilan di atas panggung.
Ketua FKUB Kabupaten Paniai, Pdt. Hans Tebai, S.Th., mengatakan bahwa penyelenggaraan lomba tidak hanya bertujuan mencari juara, tetapi juga menjadi media untuk membangun persaudaraan lintas gereja sekaligus memperkuat nilai-nilai kebangsaan.
“Melalui pujian dan nyanyian, kita membangun kebersamaan, mempererat persaudaraan, sekaligus menyiapkan putra-putri terbaik Kabupaten Paniai agar mampu bersaing pada ajang Pesparawi di tingkat yang lebih tinggi,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa seni paduan suara gerejawi tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga berfungsi sebagai sarana pembinaan karakter, pengembangan bakat generasi muda, dan penguatan harmoni sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
Setelah seluruh penampilan dinilai, dewan juri menetapkan Paroki St. Yosef Enarotali sebagai Juara I. Posisi Juara II diraih GKI Zaitun Enarotali, sedangkan GPdI Anthiokia Enarotali berhasil menempati Juara III.
Sementara itu, Juara Harapan I diberikan kepada Kingmi Anthiokia Bahasa Indonesia, Harapan II diraih Paroki Salib Suci Madi, dan Harapan III menjadi milik Kingmi Eklesia Enarotali.
Para pemenang tidak hanya membawa pulang trofi dan piagam penghargaan, tetapi juga memperoleh hadiah pembinaan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi mereka dalam mengembangkan pelayanan musik gereja. Pemberian penghargaan tersebut diharapkan menjadi motivasi bagi kelompok paduan suara lainnya untuk terus meningkatkan kualitas penampilan dan pelayanan.
Perwakilan peserta menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurut mereka, lomba vokal grup menjadi kesempatan yang berharga untuk mengembangkan kemampuan bernyanyi sekaligus mempererat hubungan persaudaraan antarjemaat yang selama ini telah terjalin dengan baik.

Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan ini juga memperlihatkan bahwa keberagaman denominasi gereja di Kabupaten Paniai dapat menjadi kekuatan dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis. Seluruh peserta tampil dengan semangat sportif dan saling memberikan dukungan, menciptakan suasana yang penuh keakraban sepanjang acara berlangsung.
Momentum peringatan HUT Kemerdekaan RI juga menjadi pengingat bahwa nilai persatuan harus terus dipelihara di tengah keberagaman. Melalui musik, masyarakat diajak mengekspresikan kecintaan terhadap tanah air sekaligus memperkokoh hubungan sosial yang dibangun atas dasar saling menghormati.
Secara nasional, kegiatan seperti lomba paduan suara dan vokal grup antar gereja telah menjadi bagian penting dalam pembinaan seni musik gerejawi. Ajang serupa juga kerap menjadi tahapan awal untuk mempersiapkan peserta menuju Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) di tingkat provinsi maupun nasional. Dengan demikian, kompetisi di Paniai bukan hanya bernilai seremonial, tetapi juga memiliki fungsi strategis dalam menjaring talenta-talenta terbaik dari daerah.
FKUB Kabupaten Paniai berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan. Selain memperkuat kerukunan antarumat beragama, acara ini juga diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang berprestasi, mencintai budaya bernyanyi, serta memiliki semangat kebangsaan yang tinggi.

Melalui harmoni suara yang berpadu dalam satu panggung, masyarakat Paniai kembali menunjukkan bahwa keberagaman bukanlah penghalang untuk bersatu. Sebaliknya, perbedaan menjadi kekuatan dalam membangun daerah yang aman, damai, harmonis, dan sejahtera, sejalan dengan semangat HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
[Nabire.Net]

11 hours ago
9

















































