Hari Buku Nasional di Nabire Bangkitkan Semangat Literasi Anak Muda Papua Tengah

19 hours ago 10

Nabire, 17 Mei 2026 – Semangat membangun budaya membaca kembali digaungkan dalam peringatan Hari Buku Nasional di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, Minggu (17/5/2026). Berbagai komunitas literasi dan anak muda berkolaborasi menggelar kegiatan kreatif bertajuk “Ber-Tubuh Buku” di Komoke Kopi, depan RRI Nabire.

Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Forum Pegiat Literasi Papua Tengah bersama Noken Buku Club, Kolektif Streo, dan KOMOKE sebagai upaya menghadirkan ruang literasi yang lebih dekat dengan masyarakat, khususnya generasi muda dan anak-anak di Papua Tengah.

Beragam aktivitas edukatif dan kreatif mewarnai acara tersebut, mulai dari sharing bacaan, bazar buku, kelas mewarnai, kelas merajut, hingga performance reading atau baca nyaring yang melibatkan peserta dari berbagai kalangan.

Suasana hangat dan penuh antusias terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Anak-anak muda, pegiat literasi, hingga masyarakat umum tampak aktif mengikuti setiap sesi yang digelar.

Anggota Noken Buku Club, Husnul Chotimah Rahanyamtel, mengatakan kegiatan itu lahir dari kepedulian bersama terhadap masih rendahnya budaya membaca di Papua Tengah, khususnya di Nabire.

Menurutnya, kolaborasi lintas komunitas menjadi langkah penting untuk memperluas ruang literasi sekaligus memperkenalkan buku kepada masyarakat secara lebih santai dan inklusif.

“Melalui kegiatan ini kita ingin mengajak masyarakat kembali dekat dengan buku. Bukan hanya pemuda, tetapi juga anak-anak supaya mereka terbiasa membaca sejak dini,” ujarnya kepada wartawan usai kegiatan.

Ia menilai perkembangan teknologi digital saat ini seharusnya tidak membuat minat membaca semakin menurun. Justru, masyarakat perlu membangun kembali kesadaran bahwa membaca menjadi bagian penting untuk memperluas wawasan dan pengetahuan.

Husnul juga mengungkapkan bahwa Noken Buku Club selama ini rutin melakukan donasi buku setiap bulan kepada anak-anak. Selain itu, mereka menyediakan buku gratis di dalam noken yang dapat dibaca masyarakat di ruang publik atau tempat nongkrong.

“Kita ingin budaya membaca menjadi sesuatu yang normal dilakukan di mana saja, termasuk di tempat nongkrong atau ruang terbuka,” katanya.

Sementara itu, Ketua Forum Pegiat Literasi Papua Tengah, Meki Tebai atau Bung Mecky, menyebut peringatan Hari Buku Nasional menjadi refleksi bersama terhadap kondisi literasi di Papua Tengah yang masih membutuhkan perhatian serius.

Dalam diskusi yang berlangsung, terdapat tiga poin penting yang menjadi perhatian para pegiat literasi. Pertama, literasi masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Kedua, buku fisik dan buku digital kini berkembang berdampingan. Ketiga, buku harus dipandang sebagai alat membangun pola pikir kritis masyarakat.

Menurut Bung Mecky, membaca buku tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi medium untuk memahami persoalan sosial dan membangun kesadaran kritis di tengah masyarakat.

“Buku harus menjadi alat untuk berpikir kritis, bertanya, dan ikut menyuarakan persoalan sosial di sekitar kita,” ujarnya.

Ia menambahkan, semangat literasi seperti itu pernah ditunjukkan tokoh-tokoh kritis Indonesia seperti Soe Hok Gie yang menjadikan membaca dan menulis sebagai bagian dari gerakan sosial.

Melalui momentum Hari Buku Nasional tersebut, komunitas literasi di Nabire berharap gerakan membaca terus berkembang menjadi gerakan berkelanjutan yang melibatkan sekolah, komunitas, hingga masyarakat luas.

Peringatan Hari Buku Nasional di Nabire pun menjadi bukti bahwa semangat literasi di Papua Tengah terus tumbuh lewat kolaborasi anak-anak muda dan komunitas yang peduli terhadap masa depan pendidikan di tanah Papua.

[Nabire.Net/Musa Boma]

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |