Jalan Oppo Jadi Raja HP di Indonesia Makin Terjal Karena Kelangkaan RAM

22 hours ago 11

Selular.id – Rencana vendor smartphone Oppo untuk kembali menjadi raja handphone (HP) di Indonesia tampaknya tidak akan mulus.

Pasalnya krisis pasokan RAM akibat banyaknya permintaan untuk kecerdasan buatan alias AI bakal jadi penghambat Oppo kembali jadi raja hp Indonesia di tahun 2026 ini.

Selular sudah mencoba untuk menanyakan strategi yang akan Oppo lakukan untuk kembali menjadi raja hp di Indonesia termasuk rencana merger dengan Realme.

Namun hingga kini, pihak Oppo yang pernah menjadi raja hp di Indonesia pada tahun 2019 hingga 2021 ini belum memberikan jawaban.

Sebelumnya, perusahaan riset International Data Corporation yakin industri smartphone global tahun ini bakal lebih menantang akibat kelangkaan memori, imbas perebutan pasokan untuk sektor pusat data AI.

IDC memberi peringatan cukup serius untuk produsen smartphone di level harga bawah.

Para peneliti memperkirakan angka pengiriman smartphone global menurun 12,9% dimana faktor ketiadaan chip jadi gambaran “tsunami rantai pasok,” dan akan menjalar ke seluruh sektor industri elektronik konsumen.

Laporan IDC Worldwide Quarterly Mobile Phone Tracker terbaru menerangkan, tahun ini angka shipment menjadi yang terendah dalam satu dekade atau ada pada kisaran 1,12 miliar unit.

Nabila Popal, Direktur Riset Senior IDC, kelangkaan chip sama artinya dengan reset secara struktural di pasar.

Persoalan memori akan mengubah landskap vendor hingga total permintaan keseluruhan atas keseluruhan produk (Total Addressable Market).

Harga yang dikerek naik berhadap, imbas dari kendala pasokan memori, berhadapan dengan permintaan yang lebih rendah.

“IDC perkirakan konsolidasi seiring dengan keluarnya pemain kecil, dan vendor kelas bawah menghadapi anjloknya penurunan pengiriman,” jelas dia dalam keterangannya, Jumat (27/2/2026).

IDC mencatat stabilitas harga memori baru akan terjadi tahun depan. Namun pada saat itu para pemain tak bisa kembali ke segmen yang sama — menetapkan harga US$100.

“Tidak ada yang bisa kembali ke keadaan normal bagi vendor dan konsumen,” ucap Nabila.

Merger Oppo dan Realme

Sementara itu, beredar rencana vendor smartphone Oppo yang akan merger kembali Realme bisa membuat Oppo kembali berjaya di pasar smartphone Indonesia maupun global.

Kembalinya Realme di bawah naungan Oppo ini sudah beredar luas sejak awal tahun 2026 ini.

Langkah bergabungnya Realme dengan Oppo diambil untuk menyatukan sumber daya dan memangkas biaya bagi dua perusahaan yang berada di bawah naungan satu induk.

Sebagai informasi, Oppo dan Realme pernah bersatu dan sama-sama di bawah naungan raksasa hardware konsumen, BKK Electronics.

Namun sejak tahun 2018 lalu, Realme akhirnya memutuskan berpisah dengan Oppo dan menjadi vendor smartphone serta gadget sendiri.

Meski Realme berpisah, Oppo tetap menjadi jawara smartphone di Indonesia maupun secara global sejak 2019 hingga 2023.

Akan tetapi, dalam beberapa tahun terakhir ini peringkat Oppo terus tergerus, baik di pasar smartphone Indonesia maupun secara global.

Pengamat gadget, Aryo Meidianto mengatakan dengan bergabungnya Realme kembali ke Oppo, bisa memperbaiki market share mereka di pasar smartphone.

“Kalau Oppo sendirian ini agak sulit untuk jadi raja HP di Indonesia, tetapi jika Realme kembali bergabung bisa jadi ada kemungkinan jadi top nomor satu,” katanya kepada Selular, Rabu (25/2/2026).

Baca juga:

Aryo menjelaskan saat ini Oppo sangat fokus untuk menggarap ponsel kelas menengah ke atas alias flagship.

Hal tersebut yang membuat mereka justru keteteran di pasar entry level yang dahulu Oppo kuasai.

“Kalau di Indonesia ini tentu masalah harga, dan ini yang dialami Oppo dalam beberapa tahun terakhir,” jelasnya.

“Hal tesebut bisa teratasi jika Realme bergabung karena akan menjaga untuk ponsel entry level. Jika penjualan Oppo dan Realme digabungkan tentu peringkat market share mereka akan naik,” tandasnya.

Keuntungan Masih Ok

Sementara itu, oengamat gadget, Herry SW membeberkan sejumlah penyebab kenapa posisi Oppo terus tergerus di pasar smartphone Indonesia.

Herry membenarkan Oppo memang posisinya terus turun peringkat di sejumlah lembaga riset.

“Kalau melihat peringkat dari lembaga riset, Oppo memang kalah dalam hal market share,” ungkapnya.

Meski turun dalam market share, Herry menyebut laba yang Oppo raup masih tidak kalah.

“Namun, kalau bicara hitung-hitungan keuntungan, bisa jadi OPPO masih oke,” ungkapnya.

Menurutnya, laba Oppo ini masih bisa mereka raup karena vendor smartphone asal China ini fokus ke segmen atas atau flagship.

Seperti Selular beritakan sebelumnya, Oppo memang fokus mengeluarkan produk smartphone lipat atau foldable maupun smartphone gulung atau slidable/rollable.

Tidak hanya foldable, smartphone flagship Oppo juga menampilkan sejumlah keunggulannya seperti kamera hingga studio editor foto yang menggunakan AI.

Oppo dalam beberapa tahun terakhir ini juga menggandeng vendor kamera ternama dari Swedia, Hasselblad, untuk menanamkan lensa terbaiknya dalam produk smartphone mereka.

“Jadi, meski volume terlihat rendah, tetapi menurut saya, value masih bagus,” ungkap Herry.

Akan tetapi, Herry menyebut keberhasilan Oppo di tahun 2019 hingga 2022 dengan menjadi raja handphone masih bisa terulang jika mereka kembali rajin mengeluarkan produk entry level.

Kalau ingin market share terlihat tinggi, OPPO perlu rajin mengeluarkan ponsel entry level,” ungkapnya.

“Namun, kalau dari hitung-hitungan bisnis kurang menggiurkan, mestinya OPPO tak perlu bersusah payah melakukan hal itu,” sambungnya.

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |