Nabire, 14 Januari 2026 – Media sosial kini menjadi pedang bermata dua bagi dunia jurnalistik di Tanah Papua. Di satu sisi, ia membuka ruang penyebaran informasi yang cepat dan luas. Namun di sisi lain, jika tidak dikelola secara bijak, media sosial justru bisa menjadi pemantik provokasi dan konflik.
Kesadaran inilah yang ditekankan Kepala Biro Antara Papua, Dian Kandipi, dalam Workshop ke-3 bertajuk “Dari Berita ke Viral: Strategi Media Sosial untuk Jurnalis Papua” pada rangkaian Festival Media Se-Tanah Papua, Rabu (14/1/2026).
Workshop yang dimoderatori jurnalis sekaligus praktisi media Merit Waromu ini diikuti pelajar, mahasiswa, hingga para jurnalis dari berbagai daerah di Tanah Papua. Dalam suasana diskusi yang interaktif, Dian mengajak peserta untuk melihat media sosial bukan sekadar alat viralitas, melainkan sarana membangun jurnalisme damai.
“Bagaimana kita bisa menggunakan media sosial tapi bukan sebagai pemantik provokasi, justru untuk mengumbarkan bagaimana itu jurnalisme damai di Papua,” ujar Dian di hadapan peserta.
Ia menegaskan, banyak konflik yang terjadi di Papua bermula dari narasi di media sosial yang tidak terverifikasi, dipotong konteksnya, atau sengaja dipelintir. Karena itu, pekerja media memiliki tanggung jawab besar dalam menyajikan konten yang memberi pemahaman, bukan memperkeruh keadaan.
Menurut Dian, Papua tidak seharusnya terus-menerus dikenal hanya karena konflik. Media sosial justru bisa menjadi ruang untuk mengangkat potensi daerah, budaya, sumber daya manusia, dan cerita-cerita positif yang selama ini jarang mendapat sorotan.
“Kita bisa memberikan pemahaman yang baik bahwa di Papua bukan hanya konfliknya saja yang terkenal, tapi juga potensi daerah yang bisa dikembangkan lainnya,” jelasnya.
Menariknya, Dian juga menyinggung persoalan kecanduan media sosial yang ternyata tidak hanya dialami pelajar, tetapi juga insan pers sendiri. Ia mengaku, pekerja jurnalistik pun kerap sulit lepas dari gawai setelah jam kerja.
“Saya rasa ini tidak cuma anak sekolah yang kecanduan. Kadang-kadang kita sebagai pekerja jurnalistik juga kecanduan,” tuturnya, disambut tawa peserta.
Menjawab pertanyaan pelajar, Dian bahkan melontarkan gagasan perlunya panti rehabilitasi kecanduan media sosial. Menurutnya, program ini tidak harus besar, tetapi didukung SDM yang memahami psikologi, teknologi informasi, serta melibatkan peran orang tua.
“Saya rasa bisa jadi program pemerintah yang baik ke depan, mengingat era digitalisasi ini sudah sangat besar, dan di Papua juga sudah seperti di luar Papua,” usulnya.
Dian pun mengapresiasi antusiasme pelajar yang ingin belajar memproduksi konten positif. Ia menilai selama ini media sosial lebih banyak digunakan untuk hiburan pribadi, padahal potensinya sangat besar sebagai sarana edukasi dan informasi.
Menutup sesi diskusi, Kabiro Antara Papua ini mengajak jurnalis Papua untuk terus mengupdate diri dan tidak stagnan menghadapi perubahan zaman.
“Kalau adik-adik generasi Z ini sudah bisa naik, kita-kita teman-teman media juga mulai mengupdate diri. Bagaimana kita bisa bersaing di tengah penggunaan media sosial untuk zona informasi,” pungkasnya.
Workshop ini menjadi bagian dari Festival Media Se-Tanah Papua yang berlangsung pada 13–15 Januari 2026, dengan rangkaian kegiatan seperti pelatihan jurnalistik investigasi, talk show, pameran foto, hingga malam penganugerahan Papua Jurnalistik Award 2026.
[Nabire.Net/Musa Boma]

2 weeks ago
41












































