Nabire, 7 Februari 2026 – Kasus malaria di Kabupaten Nabire menunjukkan peningkatan signifikan. Hingga akhir tahun 2025, tercatat sebanyak 8.556 kasus positif malaria, melonjak tajam dibandingkan Desember 2024 yang hanya 3.274 kasus. Kondisi ini menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Nabire.
Sebagai respons atas lonjakan tersebut, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung (DPMK) Kabupaten Nabire bersama Dinas Kesehatan menggelar rapat koordinasi singkat dengan para kepala kampung. Rapat berlangsung di sela-sela pertemuan resmi di Aula DPMK Nabire, Jumat (6/2/2026).
Kepala DPMK Nabire, Pilemon Madai, menegaskan bahwa penanggulangan malaria harus menjadi prioritas utama di tingkat kampung, mengingat dampaknya yang langsung terhadap kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
“Masalah malaria harus diprioritaskan oleh kampung karena berkaitan langsung dengan kesehatan dan keselamatan masyarakat. Kampung perlu melakukan langkah-langkah perlindungan melalui kegiatan pencegahan yang sederhana namun efektif,” ujar Pilemon.
Ia menekankan pentingnya gerakan bersama masyarakat, seperti membersihkan saluran air dan lingkungan sekitar guna mencegah terbentuknya genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Anopheles. Selain itu, peran kader kesehatan kampung juga diharapkan semakin diperkuat.
Pilemon Madai mengungkapkan, terdapat 9 kampung dan 6 kelurahan dengan angka kasus malaria tertinggi di Kabupaten Nabire. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi erat antara pemerintah kampung, Dinas Kesehatan, dan Puskesmas untuk menekan angka penularan.
“Melalui kader dan ketua RT, kampung dapat memantau penggunaan kelambu, memastikan penderita malaria mengonsumsi obat sesuai anjuran tenaga kesehatan, serta melakukan edukasi melalui poster dan spanduk pencegahan malaria,” tambahnya.
Selain itu, kampung didorong untuk mengalokasikan pembiayaan kampung dalam mendukung program eliminasi malaria, antara lain melalui:
-
Pemberantasan jentik nyamuk berbasis pengelolaan lingkungan
-
Penyediaan lotion anti-nyamuk di lokasi aktivitas malam hari
-
Pelibatan PKK, RT, kader kesehatan, dan kader malaria dalam pemeriksaan dini, pemantauan konsumsi obat, serta penggunaan kelambu
Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire, Alfred Lambey, menegaskan bahwa kampung memiliki peran strategis sebagai pilar utama eliminasi malaria.
“Pengendalian malaria bukan semata-mata persoalan angka, tetapi menyangkut aspek kemanusiaan—perlindungan keluarga, khususnya ibu hamil dan bayi,” jelas Alfred.
Menurutnya, malaria pada ibu hamil dan bayi berisiko menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan otak serta fisik bayi, yang dapat berujung pada stunting dan gizi buruk.
“Dibutuhkan tanggung jawab bersama seluruh elemen, khususnya pemerintah kampung, untuk melindungi kelompok rentan dan menekan angka malaria di Kabupaten Nabire,” tutupnya.
Adapun kampung dengan kasus malaria tertinggi yakni Wami Jaya, Sanoba Pantai, Samabusa, Air Mandidi, Waroki, Nifasi, Bumi, Biha, Argomulyo, dan Bumi Raya.
Sementara kelurahan dengan kasus tinggi meliputi Kalibobo, Nabarua, Siriwini, Wonorejo, Karang Mulia, dan Girimulyo.
Dalam kegiatan tersebut turut hadir Konsultan Malaria UNICEF untuk Timika dan Nabire, Yulizar Kasma, sebagai bentuk dukungan penguatan program eliminasi malaria di tingkat kampung.
[Nabire.Net/Musa Boma]

19 hours ago
11












































