Menkomdigi Tantang Operator Seluler Ciptakan AI, ATSI: Kami Pakai Untuk Efisiensi

11 hours ago 13

Selular.ID – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid memberikan tantangan kepada operator telekomunikasi untuk menciptakan kecerdasan buatan atau AI.

Hal tersebut diungkapkannya saat peresmian kecerdasan buatan atau AI milik Indosat Ooredoo Hutchison, Sahabat-AI, di Perpustakaan Taman Ismail Marzuki, Rabu (25/2/2026).

“Saya berharap tidak hanya Indosat yang membuat AI, tetapi juga operator telekomunikasi yang lain juga membuat,” ujar Meutya.

Menurut Meutya Hafid makin masif penggunaan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dia berharap agar Indonesia tidak hanya sebatas sebagai konsumen saja.

Meutya menjelaskan sekitar 230 juta dari 278 penduduk RI sudah terhubung ke ruang digital.

Data tersebut tidak hanya besar di kawasan Asia Tenggara, tapi sudah termasuk terbesar juga di dunia.

Baca juga:

“Jadi, angka ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki posisi yang kuat, yang perlu kita pastikan adalah kalau saat ini memang kita disebutnya one of the biggest digital market saja,” ungkapnya.

“Ke depan kita tidak ingin hanya dibilang one the biggest digital market, tapi kita juga ingin one of the biggest digital creator in the world. Sepakat?,” sambungnya.

Pakai AI Untuk Efisiensi

Sebelumnya, Sekjen ATSI, Merza Fachys mengungkapkan jika operator seluler sudah menggunakan AI tetapi sifatnya untuk efisiensi.

Hal tersebut diungkapkan Merza saat acara diskusi Indonesia Digital Festival 2026 yang berlangsung di Jakarta, Kamis (29/1/2026).

Merza mengatakan jika operator seluler saat ini sedang mengajukan untuk penghapusan biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi radio untuk semakin meratakan digitalisasi.

Merza menjelaskan pihaknya sudah berdiskusi dengan Komdigi terkait peningkatan infrastruktur digital di Indonesia.

“Komdigi minta supaya internet seluler kita harus meningkat tetapi harganya jangan mahal-mahal. Kita juga minta supaya BHP juga diturunkan,” jelas Merza.

“Kami bahkan sudah sering mengusulkan ini sampai Komdigi mungkin juga sudah bosan mendengarnya. Supaya tidak bosan, maka lebih baik BHP dihilangkan,” ujarnya.

Merza merinci jika BHP yang dikenakan saat ini sudah tidak relevan, ditambah lagi kondisi operator seluler yang semakin terhimpit karena harus mempercepat infrastruktur digital.

“Dulu mungkin pendapatan operator seluler bisa dapat banyak dari panggilan telepon dan sangat layak untuk terkena BHP suara. Tetapi saat ini sudah tidak relevan,” jelasnya.

Tidak hanya BHP frekuensi, operator seluler juga harus menanggung pajak hingga regulatory charge dari pemerintah pusat hingga daerah.

“Saat kita dikebut untuk mempercepat infrastruktur digital kita, di sisi lain perusahaan digital seperti Meta dan lainnya tidak terkena pajak maupun menanggung BHP ini,” lanjutnya.

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |