OJK: 60% Investor Kripto RI Didominasi Generasi Muda

2 hours ago 8

Selular.ID – Otoritas Jasa Keuangan mengungkap bahwa lebih dari 60% investor kripto di Indonesia berasal dari generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial muda, dengan aktivitas transaksi yang relatif tinggi.

Temuan tersebut mengacu pada Indonesia Crypto & Web3 Industry Report 2025 yang menunjukkan tingkat awareness aset kripto di Indonesia mencapai 93%.

Lebih dari separuh responden berasal dari Gen Z, yang aktif menjadikan kripto sebagai bagian dari diskusi finansial sehari-hari, terutama di media sosial dan komunitas digital.

Dino Milano Siregar, Kepala Departemen Pengawasan Inovasi Aset Keuangan Digital OJK,  menilai tingginya partisipasi generasi muda belum sepenuhnya diikuti dengan literasi keuangan yang memadai.

Ia menjelaskan bahwa keputusan investasi Gen Z kerap dipengaruhi faktor sosial seperti peer influence dan fenomena fear of missing out (FOMO), bukan semata analisis rasional.

“OJK menekankan pentingnya edukasi agar investor muda memahami risiko dan mampu menyusun strategi investasi yang lebih terukur,”ujar Dino.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Dari sisi industri, Tokocrypto melihat pola yang serupa. Perwakilan perusahaan menyebut Gen Z memiliki karakter lebih aktif dan berani mengambil risiko dibanding generasi sebelumnya.

Data internal Tokocrypto menunjukkan sekitar 26,9% pengguna berada di rentang usia 18–24 tahun dan 35,1% di usia 25–30 tahun, sehingga mayoritas pengguna platform berasal dari kelompok usia muda.

Selain dominan secara jumlah, Gen Z juga tercatat sebagai segmen dengan frekuensi transaksi tertinggi.

Rata-rata nilai deposit berada pada kisaran Rp100.000 hingga Rp500.000, mencerminkan pendekatan investasi bertahap dengan nominal terjangkau.

Kelompok ini juga mendominasi kategori first trader atau pengguna yang baru pertama kali bertransaksi kripto.

Sebagai digital native, Gen Z cenderung mengandalkan informasi dari media sosial, komunitas, dan influencer dalam mengambil keputusan.

Pola ini mendorong platform seperti Tokocrypto untuk memperkuat fungsi edukasi, tidak hanya sebagai fasilitator transaksi.

Berbagai program seperti Tokocrypto Academy, riset mingguan, hingga webinar dan workshop dikembangkan untuk meningkatkan pemahaman pengguna.

Selain itu, pendekatan berbasis komunitas juga diperluas melalui program OBRAS (Obrolan Komunitas) yang telah menjangkau lebih dari 50 kota dan melibatkan lebih dari 200 ribu peserta sepanjang 2025.

Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya memperluas literasi kripto secara inklusif, termasuk di luar kota besar.

Di tingkat global, tren dominasi generasi muda dalam adopsi kripto juga terlihat. Studi Protocol Theory mencatat bahwa Gen Z di Amerika Serikat memiliki tingkat kepercayaan lebih tinggi terhadap aset kripto dibandingkan sistem keuangan tradisional.

Faktor seperti kontrol terhadap aset, transparansi, serta akses digital menjadi pendorong utama.

Laporan World Economic Forum juga menyoroti bahwa tekanan ekonomi, termasuk stagnasi pendapatan dan kenaikan biaya hidup, mendorong sebagian generasi muda mencari alternatif investasi berisiko lebih tinggi, termasuk kripto.

Kondisi ini memperkuat keterkaitan antara faktor teknologi dan ekonomi dalam membentuk perilaku investasi.

Baca Juga:Usia 6 Tahun Jumlah Unduhan Pintu Capai 11 Juta, Dorong Lonjakan Kripto

Perkembangan ini menempatkan edukasi sebagai elemen kunci dalam pertumbuhan ekosistem kripto di Indonesia. OJK bersama pelaku industri menekankan bahwa peni

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |