Siswa SMP Sukma Jadi Korban Bully Orang Tua Lapor Polisi

10 hours ago 4

Kadis Pendidikan dan Kebudayaan, Dr Muslim bersama Kabid Pembinaan SMP, Azhari S.Pd M.Pd, Kepala SMP Sukma Bangsa Bireuen dan wali siswa yang dilapor ke polisi saat proses mediasi, Senin (14/9)

BIREUEN|METRO ACEH-Seorang siswa SMP Sukma Bangsa Bireuen, dikabarkan menjadi korban perundungan rekan sekelasnya di sekolah elit itu. Ironisnya, salah satu orang tua pelaku malah dianggap mengabaikan luka fisik dan psikis yang dialami korban bullying tersebut.

Karena merasa kecewa, orang tua pelajar kelas I itu terpaksa mengeluarkan anaknya dari sekolah mahal tersebut, lalu melaporkan peristiwa perundungan ini ke polisi, disertai bukti visum atas tindak kekerasan oleh anak yang dilakukan dua siswa SMP Sukma Bangsa Bireuen.

Orang tua korban, Azwir (45) warga Cureh Barat Desa Geulanggang Gampong, Kecamatan Kota Juang saat ditemui media ini, Senin (14/9) mengaku sangat kecewa, atas perlakuan buruk yang dialami puteranya di sekolah sejak awal tahun ajaran baru lalu.

Menurut dia, hampir dua bulan terakhir ini anaknya kerap dipukuli dan diejek oleh dua teman sekelas. Namun, tak pernah mengadu ke orang tua, karena takut harus keluar dari sekolah itu yang telah menghabiskan biaya belasan juta rupiah.

“Kami baru tahu beberapa hari lalu, saat dia (korban-red) lagi mandi. Kakaknya melihat banyak bekas lembam di tubuh adiknya, lalu ditanyai kenapa dan tak dijawab, kemudian si kakak memberitahukannya ke istri saya,” ujar Azwir.

Setelah ditanya, akhirnya korban ini mengaku dipukuli oleh dua teman satu kelas, ternyata sebut Azwir menurut keterangan puteranya itu, pemukulan tersebut sudah sering dialami sejak masuk SMP Sukma. Karena saling ejek satu sama lain, hingga berujung aksi bully setiap hari saat jam istirahat, maupun dalam kelas.

Dia mengaku, saat persoalan ini diselesaikan secara kekeluargaan oleh pihak sekolah, salah satu orang tua pelaku anak itu malah menganggap hal ini masalah sepele, serta tak memperlihatkan sikap yang baik,”Saya merasa kecewa, maka anak kami lebih baik pindah ke sekolah lain saja dan peristiwa pembullyan itu saya lapor ke Polres Bireuen,” tukasnya dengan nada kesal.

Azwir menambahkan, alasan pindah sekolah karena khawatir anaknya trauma dan dapat berakibat terhadap kondisi psikologis, serta perkembangan mental.

Sehingga, dirinya juga melaporkan kejadian itu ke polisi, guna mendapat penanganan sesuai hukum serta mengadu ke awak media agar tak ada lagi pengabaian, atas tindakan pembullyan di sekolah-sekolah lain dalam wilayah Kabupaten Bireuen.

Berdasarkan data yang diperoleh Metro Aceh menyebutkan, Azwir melapor ke SPKT Polres Bireuen sesuai Surat Tanda Penerimaan Laporan LP/B/295/IX/SPKT/POLRES BIREUEN tanggal 9 September 2026. Orang tua korban ini, melaporkan dugaan tindak pidana kejahatan perlindungan anak UU 35 tahun 2014.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bireuen, Dr Muslim yang ditanyai awak media ini mengaku baru mendapat informasi terkait persoalan itu, lalu dirinya segera memberi respon cepat agar masalah tersebut bisa diselesaikan secara adil dan bermartabat.

“Hari ini kami sudah memanggil semua pihak dan melakukan upaya mediasi, hadir kepala sekolah serta orang tua para siswa itu, untuk menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan,” jelas Muslim.

Dia mengaku optimis, persoalan ini akan bisa diselesaikan secara baik dan adil, sehingga kedua pihak dapat menerima apapun hasil kesepakatan bersama. Saat ditemui awak media ini, Muslim turut memperlihatkan foto mediasi bersama para pihak yang difasilitasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Kepala SMP Sukma Bireuen, Hilza yang dikonfirmasi awak media ini menanggapi dengan mengirimkan siaran pers resmi. Menurutnya, pihak sekolah menyampaikan pernyataan dengan penuh keprihatinan dan kerendahan hati, sehubungan adanya dugaan kekerasan fisik yang melibatkan beberapa siswa di lingkungan sekolah.

Peristiwa ini menurutnya, menjadi bahan refleksi yang mendalam bagi mereka sebagai institusi pendidikan yang bertanggung jawab atas keselamatan dan kesejahteraan setiap anak yang dititipkan kepada oleh para orang tua.

Berdasarkan penelusuran internal, peristiwa ini bermula dari konflik saling ejek yang berulang di antara beberapa siswa, yang pada 8 September 2026 berkembang menjadi tindakan kekerasan fisik terhadap salah satu siswa (selanjutnya disebut dengan inisial A). Orang tua A melaporkan kejadian tersebut kepada pihak sekolah pada hari yang sama, disertai bukti berupa memar pada tubuh anak mereka.

Sekolah segera menindaklanjuti laporan tersebut. Pada hari berikutnya, pihak sekolah melakukan penelusuran terhadap para siswa yang terlibat, mempertemukan mereka untuk klarifikasi, serta memfasilitasi pertemuan antara orang tua A dan pihak sekolah.

“Kami juga menghormati keputusan orang tua A untuk membawa persoalan ini ke ranah hukum melalui pihak kepolisian, termasuk permintaan pemeriksaan visum, sebagai bagian dari hak mereka untuk mendapatkan keadilan,” jelas Hilza.

Lalu, pada 10 September 2026, sekolah memfasilitasi pertemuan mediasi orang tua A dan orang tua siswa-siswa yang diduga terlibat. Dalam pertemuan tersebut, sejumlah keterangan disampaikan oleh kedua belah pihak, termasuk keterangan yang masih memerlukan verifikasi lebih lanjut oleh pihak berwajib.

Pihaknya, memilih untuk tidak mengungkap rincian lebih jauh dari proses ini kepada publik, demi menjaga privasi dan kondisi psikologis seluruh anak yang terlibat, serta menghormati proses hukum yang sedang berjalan.

Menurutnya, pihak SMP Sukma Bangsa Bireuen telah menindaklanjuti laporan orang tua secara cepat, termasuk penelusuran internal pada hari kejadian dilaporkan. Lalu, memfasilitasi ruang klarifikasi dan permintaan maaf awal, diantara para siswa yang terlibat, didampingi guru.

Selanjutnya, memfasilitasi pertemuan mediasi antara kedua belah pihak orang tua, serta melibatkan kepala sekolah dan konselor sekolah. Menghormati dan mendukung proses hukum yang ditempuh oleh orang tua siswa korban melalui pihak kepolisian, tanpa berupaya menghalangi atau meminta pencabutan laporan.

Kemudian, memberikan pendampingan konseling kepada para siswa yang terlibat, dan merencanakan sesi lanjutan untuk membangun kesadaran akan dampak kekerasan, sekecil apa pun bentuknya.

“Terhitung setelah menerima laporan, kami sudah melakukan semua langkah sesuai prinsip manajemen Konflik Berbasis Sekolah dan sekolah damai yang menjadi fondasi pendidikan di Sekolah Sukma Bangsa,” ungkapnya.

Dia mengaku, sekolah mengecam keras tindakan kekerasan dalam bentuk apa pun, termasuk yang kerap dianggap sebagai ‘bercandaan’ di antara anak-anak, tidak dapat dibenarkan dan tidak akan ditoleransi. Namun, pihaknya juga menyadari peristiwa ini menunjukkan adanya celah dalam sistem deteksi dini dan penanganan konflik antar siswa di lingkungan,”Kami berkomitmen untuk terus mengevaluasi serta memperbaiki sistem tersebut. Ke depan, kami akan memperkuat program pendidikan karakter dan anti-kekerasan, meningkatkan pengawasan pada jam-jam rawan seperti waktu istirahat, serta memastikan setiap siswa memahami bahwa mereka dapat dan harus meminta bantuan guru ketika menghadapi masalah dengan teman, alih-alih menyelesaikannya dengan kekerasan,” pungkas Hilza melalui siaran pers.

Keputusan mengenai sanksi terhadap siswa yang terlibat, akan ditetapkan seadil-adilnya, dengan mempertimbangkan proses hukum yang sedang berjalan, masukan dari kedua belah pihak orang tua, serta prinsip pendidikan yang mengutamakan pemulihan dan pembelajaran bagi semua anak yang terlibat, termasuk pelaku.

Kepada keluarga siswa yang terdampak, Hilza menyampaikan permohonan maaf tulus atas dampak yang dialami anak mereka, baik secara fisik maupun psikologis. Dia turut prihatin atas kekhawatiran yang dirasakan orang tua terhadap kondisi kejiwaan anaknya, dan pihaknua membuka diri untuk terus mendampingi proses pemulihan tersebut, termasuk mendukung keputusan apa pun yang diambil keluarga demi kebaikan anaknya.

Dia berharap, peristiwa ini dapat menjadi pembelajaran bersama, tidak hanya bagi sekolah, tetapi juga bagi seluruh komunitas pendidikan, tentang pentingnya kewaspadaan terhadap tanda-tanda kekerasan antar anak sejak dini. Pihaknya, mengajak seluruh orang tua dan wali murid terus bekerja sama dengan sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, suportif, dan bebas dari kekerasan bagi setiap anak.(Bahrul)

Follow WhatsApp Channel www.metroaceh.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |