Selular.ID – CEO Apple, Tim Cook, tidak berencana untuk meninggalkan pucuk pimpinan perusahaan dalam waktu dekat.
Dalam sebuah wawancara baru di Good Morning America, Cook menanggapi spekulasi tentang pensiunnya, dan menyebut laporan bahwa ia sedang bersiap untuk mundur sebagai “hanya rumor.”
Komentar tersebut muncul setelah Financial Times melaporkan tahun lalu bahwa Apple mungkin sedang mempersiapkan kepergian Cook paling cepat pada 2026.
Namun, seiring berjalannya tahun, sikap dan pernyataan Cook menunjukkan tidak ada transisi kepemimpinan yang akan segera terjadi.
Ketika ditanya langsung tentang apakah ia berencana untuk “mundur sedikit,” Cook dengan cepat mengklarifikasi bahwa klaim tersebut tidak akurat.
“Saya tidak mengatakan itu. Itu hanya rumor”, katanya kepada pewawancara Michael Strahan.
Jawaban singkat namun jelas dari Cook mengakhiri perbincangan selama berbulan-bulan tentang suksesi di Apple, yang mencapai puncaknya setelah beberapa perubahan kepemimpinan di jajaran perusahaan.
Analis industri dan investor telah mengamati dengan cermat langkah-langkah internal perusahaan, termasuk keputusan Cook akhir tahun lalu untuk menyerahkan pengawasan tim desain kepada John Ternus, wakil presiden senior bidang rekayasa perangkat keras Apple.
Pergeseran itu, bersama dengan peningkatan visibilitas Ternus pada peluncuran produk dan penampilan media, telah memicu teori bahwa ia diposisikan sebagai penerus Cook di masa depan.
Namun, komentar Cook di Good Morning America memperjelas bahwa komitmennya sendiri terhadap Apple tetap kuat.
“Saya sangat mencintai apa yang saya lakukan. Dua puluh delapan tahun yang lalu, saya masuk ke Apple, dan saya menyukai setiap harinya sejak saat itu. Kami telah mengalami pasang surut, tetapi orang-orang yang bekerja dengan saya sangat luar biasa”, ujarnya.
“Mereka mengeluarkan yang terbaik dari diri saya, dan mudah-mudahan saya dapat mengeluarkan yang terbaik dari diri mereka. Saya tidak dapat membayangkan hidup tanpa Apple.”
Cook, yang berusia 65 tahun tahun lalu, telah menjabat sebagai CEO sejak Agustus 2011, memimpin Apple melalui era ekspansi besar-besaran – dari Apple Watch hingga fokus perusahaan yang semakin meningkat pada layanan, silikon khusus, dan kecerdasan buatan.
Meskipun usia dan masa jabatannya secara alami menimbulkan pertanyaan tentang suksesi, pernyataan Cook tidak menunjukkan indikasi bahwa peralihan kepemimpinan sedang berlangsung.
Bagi Apple, kontinuitas di puncak tetap penting. Di bawah kepemimpinan Cook, perusahaan mencapai tonggak kapitalisasi pasar $3 triliun dan mengatasi tantangan rantai pasokan global sambil mengalihkan lebih banyak manufaktur ke Amerika Serikat.
Gaya kepemimpinannya – metodis, bersahaja, dan tepat secara operasional – telah mendefinisikan stabilitas Apple di era pasca-Steve Jobs.
Namun, spekulasi tentang apa yang akan terjadi selanjutnya kemungkinan akan terus berlanjut.
Komunitas teknologi melihat Ternus sebagai kandidat internal yang paling jelas jika dan ketika Cook akhirnya mengundurkan diri.
Meskipun komentar Cook di televisi mungkin tidak sepenuhnya menutup kemungkinan itu, nadanya memperjelas bahwa suksesi belum menjadi agenda Apple dalam waktu dekat.
Untuk saat ini, kepala Apple yang telah lama menjabat tampaknya berniat untuk melanjutkan pekerjaan yang telah dipimpinnya selama hampir 15 tahun.
Ketika ditanya apakah ia akan tetap bertahan untuk “jangka waktu yang tidak dapat diprediksi,” Cook tidak memberikan jadwal terperinci tetapi mengatakan cukup untuk menjawab pertanyaan tersebut – untuk saat ini.
Kecintaannya pada Apple, katanya dengan lugas, belum pudar: hidup tanpa Apple tetap sulit dibayangkan.
Baca Juga:
Tercecer Dalam Persaingan AI dan Eksodus Para Petinggi Apple
Sebelumnya rumor mundurnya Cook telah menyita perhatian publik sejak akhir tahun lalu. Di tengah rencana pergantian, LightShed Partners, sebuah firma riset, menyatakan Apple sebaiknya mempertimbangkan pengganti Cook yang “lebih fokus pada produk” daripada sekadar aspek logistik.
Para analis menilai bahwa Apple kini menghadapi tantangan serius, terutama dalam mengimbangi pesaing yang agresif di ranah kecerdasan buatan (AI).
Rencana mundurnya Tim Cook juga tak bisa dilepaskan dari eksodus sejumlah petinggi Apple. Perusahaan mengalami gelombang kepergian para pemimpin senior yang menandai penataan ulang manajemen paling signifikan perusahaan sejak pendiri dan CEO visionernya, Steve Jobs, wafat pada 2011.
Eksodus kepemimpinan ini mencakup divisi-divisi penting mulai dari kecerdasan buatan hingga desain, urusan hukum, kebijakan lingkungan, dan operasional, yang akan berdampak besar pada arah Apple di masa mendatang.
Pada Kamis (4/12/2025), Apple mengumumkan bahwa Lisa Jackson, Wakil Presiden bidang lingkungan, kebijakan, dan inisiatif sosial, serta Kate Adams, penasihat umum perusahaan, akan pensiun pada 2026.
Sebelumnya, Kepala AI John Giannandrea mengumumkan pengunduran dirinya pada awal Desember.
Pemimpin desainnya, Alan Dye, yang mengambil alih desain antarmuka pengguna Apple yang sangat penting setelah Jony Ive meninggalkan perusahaan pada 2019, baru saja direkrut oleh Meta milik Mark Zuckerberg minggu ini.
Skala pergantian personel ini belum pernah terjadi sebelumnya di era Tim Cook. Pada Juli lalu, Jeff Williams, COO Apple, yang telah lama dianggap sebagai penerus Cook sebagai CEO, memutuskan untuk pensiun setelah 27 tahun bersama perusahaan.
Sebulan kemudian, CFO Apple, Luca Maestri, juga memutuskan untuk mundur dari jabatannya.
Dan divisi desain, yang baru saja kehilangan Dye, juga kehilangan Billy Sorrentino, seorang direktur desain senior, yang pindah ke Meta bersama Dye.
Situasi semakin bergejolak bagi tim AI Apple, pasalnya Ruoming Pang, yang memimpin tim model dasar AI, memutuskan pindah ke Meta pada Juli dan membawa sekitar 100 insinyur bersamanya.
Seperti halnya Pang, Ke Yang, yang memimpin pencarian web berbasis AI untuk Siri, dan Jian Zhang, pemimpin robotika AI Apple, juga pindah ke Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram.
Sementara itu, di tim AI, Giannandrea akan digantikan oleh Amar Subramanya, yang memimpin strategi dan upaya pengembangan AI di Google selama sekitar 16 tahun sebelum sempat bekerja sebentar di Microsoft.
Di bawah kepemimpinan Giannandrea di bidang AI, Apple menghadapi kritik karena tertinggal dari para pesaingnya dalam adopsi AI generatif.
Para pesaing terdekat seperti Samsung lebih cepat mengintegrasikan fitur-fitur AI (AI on Device) ke dalam ponsel pintar mereka.
Upaya Apple untuk mengintegrasikan AI canggih ke dalam jajaran produknya berjalan di bawah inisiatif Apple Intelligence, yang diumumkan pada Worldwide Developers Conference Juni 2024 lalu.
Namun, kemajuannya terbilang lambat. Peluncuran Siri yang telah disempurnakan dengan AI, yang awalnya dijadwalkan tahun ini, secara tak terduga ditunda hingga musim semi mendatang, memicu kekecewaan dari investor dan pelanggan.
Tanda-tanda Apple tercecer dalam perlombaan AI, semakin tergambar jelas pada awal 2025. Saat itu, Apple mengumumkan bahwa peningkatan kecerdasan buatan (AI) yang signifikan untuk asisten suara Siri akan ditunda hingga 2026.
Kepergian sejumlah eksekutif ini menimbulkan pertanyaan tentang apakah gaya kepemimpinan Cook cocok untuk era kecerdasan buatan.
Apple gagal menepati janjinya untuk merilis Siri versi baru tahun lalu, dan sejak saat itu mengumumkan kerjasama dengan Google Gemini untuk mengotaki fitur AI di iPhone.
Langkah ini dikritik oleh sejumlah analis karena dianggap akan membuat Apple semakin bergantung pada pesaing langsungnya.
Seperti analis Walter Piecyk dari LightShed Partners yang memperingatkan Apple berpotensi menyerahkan masa depan AI-nya ke Google.
“Pada dasarnya Anda menyerahkan AI kepada Google, sama seperti Anda menyerahkan penelusuran kepada Google,” kata Piecyk kepada CNBC pada Desember 2025.
Piecyk menyebut 2026 adalah waktu yang ideal bagi Cook untuk menyerahkan tongkat estafet ke penerusnya, saat saham Apple mendekati titik tertinggi dan siklus upgrade iPhone kembali menguat.
Menurutnya, itu akan membantu Cook untuk pergi dengan kesan baik dan menyerahkan transisi AI kepada penerus yang sudah disiapkan.
Namun, Cook tidak menunjukkan adanya urgensi terkait transisi kepemimpinan. Ia menyebut teknologi AI sebagai sesuatu yang mendalam dan membela pendekatan Apple yang mengutamakan privasi.
Sebelumnya pada Agustus lalu, dalam sebuah pertemuan internal global di markas besar perusahaan di Cupertino, Tim Cook, secara terbuka mengakui ketertinggalan perusahaannya dalam perlombaan AI dan berjanji untuk mengerahkan segalanya demi mengejar para pesaingnya.
Pada pertemuan itu, Tim Cook menyampaikan pesan yang tegas kepada para karyawannya.
Seperti dilaporkan Bloomberg, Cook menyebut revolusi AI “as big or bigger” (sama besar atau lebih besar) dari internet.
“Apple harus melakukan ini. Apple akan melakukan ini. Ini adalah milik kita untuk diraih,” serunya, mengisyaratkan urgensi dan optimisme.
Kini dengan penegasan untuk tidak mundur dalam waktu dekat, Tim Cook memastikan bahwa dirinya masih tetap menjadi ‘King Maker” di Apple.
Terlepas dari rumor yang sebelumnya berkembang, Tim Cook memiliki gaya kepemimpinan yang dinilai masih relevan dengan raksasa teknologi itu.
Cook memimpin Apple dengan gaya kolaboratif, demokratis, dan fokus pada efisiensi operasional, sangat kontras dengan gaya otokratis Steve Jobs.
Cook juga mengutamakan pemberdayaan tim, privasi data pengguna, kerendahan hati, serta keberlanjutan ekosistem produk, yang berhasil membawa Apple mencapai kapitalisasi pasar tertinggi.
Baca Juga: Profil John Ternus, Kandidat Kuat Pengganti Tim Cook di Apple

















































