Selular.ID – Telkom mengintegrasikan 1.231 anak ke dalam platform digital Stunting Action Hub sepanjang Januari–Desember 2025 sebagai bagian dari program intervensi gizi terpadu yang menjangkau 3.169 anak di sembilan provinsi.
Langkah ini diumumkan di Jakarta, 27 Februari 2026, sebagai kontribusi Telkom dalam mendukung percepatan penurunan stunting nasional berbasis data dan pemantauan terstruktur.
Program tersebut memadukan bantuan nutrisi langsung dengan pemanfaatan teknologi digital untuk pencatatan dan evaluasi pertumbuhan anak.
Melalui Stunting Action Hub, parameter seperti tinggi badan, berat badan, dan status gizi dicatat secara sistematis sehingga proses pemantauan dapat dilakukan lebih presisi dan berkelanjutan.
SGM Social Responsibility Telkom Hery Susanto menyatakan bahwa pendekatan berbasis data menjadi fondasi utama program.
Menurut dia, penanganan stunting tidak cukup mengandalkan distribusi bantuan fisik, tetapi memerlukan ekosistem data terintegrasi agar intervensi yang dilakukan dapat diukur efektivitasnya secara real-time dan berkelanjutan.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi stunting nasional tercatat sebesar 21,5%.
Angka tersebut menunjukkan sekitar satu dari lima balita di Indonesia mengalami gangguan pertumbuhan kronis akibat kekurangan gizi dalam jangka panjang.
Pemerintah menargetkan penurunan prevalensi hingga 14% sebagai bagian dari agenda prioritas pembangunan kesehatan nasional.
Dalam konteks tersebut, Telkom memosisikan Stunting Action Hub sebagai sistem pendukung pengambilan keputusan berbasis data.
Platform ini dirancang untuk membantu pencatatan kondisi anak penerima manfaat secara berkala, termasuk riwayat intervensi yang telah diberikan. Dengan sistem digital, proses evaluasi tidak lagi bergantung pada pencatatan manual yang berisiko terfragmentasi.
Program intervensi gizi Telkom dilaksanakan di sembilan provinsi, yaitu Lampung, Sumatera Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan.
Pelaksanaan di tingkat daerah dilakukan melalui kolaborasi dengan pemangku kepentingan setempat guna memastikan distribusi bantuan nutrisi dan pendampingan berjalan tepat sasaran.
Pendekatan ini juga sejalan dengan arah transformasi digital yang selama ini diusung Telkom sebagai perusahaan telekomunikasi dan teknologi.
Integrasi data kesehatan anak ke dalam satu platform memungkinkan pemantauan lintas wilayah dan mempercepat identifikasi kebutuhan intervensi lanjutan apabila ditemukan risiko pertumbuhan yang belum optimal.

Secara kebijakan, program ini merupakan bagian dari implementasi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Telkom.
Inisiatif tersebut dikaitkan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being).
Dengan menggabungkan intervensi gizi dan digitalisasi sistem pemantauan, perusahaan berupaya memastikan kontribusi sosialnya terukur dan terdokumentasi.
Dalam ekosistem penanganan stunting nasional, ketersediaan data akurat menjadi faktor penting karena menentukan ketepatan kebijakan dan alokasi sumber daya.
Integrasi 1.231 anak ke Stunting Action Hub menunjukkan pergeseran pendekatan dari sekadar bantuan langsung menuju model intervensi berbasis sistem informasi. Model ini memungkinkan pelacakan perkembangan anak secara periodik dan menjadi referensi dalam evaluasi dampak program.
Telkom menyatakan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi antara teknologi dan program sosial.
Melalui optimalisasi platform digital serta kolaborasi dengan pemangku kepentingan di daerah, perusahaan menempatkan teknologi sebagai instrumen untuk mendukung agenda kesehatan nasional dan peningkatan kualitas sumber daya manusia menuju visi Indonesia Emas 2045.
Baca Juga: Stunting Action Hub Antarkan Telkom Raih Penghargaan di ICCS Summit 2025













































