Wanti-Wanti Ridwan Hanif Buat Pengguna Mobil Listrik, Jaga Baterai Dengan Baik Jika Tidak Ingin Nangis Bombay

14 hours ago 9

Selular.ID – Adopsi mobil listrik terbilang sangat baik di Indonesia. Hal itu tercermin dari tingginya penjualan yang terus meningkat sepanjang lima tahun terakhir.

Dimotori oleh BYD, Wuling, Cherry, Jaecoo, dan MG, dan lainnya, para produsen otomotif China berhasil menarik konsumen milenial/urban yang mencari kendaraan praktis, tidak bikin kantong bolong, sekaligus ramah lingkungan.

Dominasi mobil listrik China tercermin dari data terbaru Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia).

Tercatat, penjualan mobil listrik nasional periode tiga bulan awal 2026 masih cukup menjanjikan, meski Maret terjadi penurunan menjadi 10.572 unit, dibandingkan Februari 12.314 unit.

Kendati begitu, penjualan Januari – Maret 2026 tercatat naik signifikan sebanyak 95,9 persen jadi 33.150 unit. Padahal periode tiga bulan awal tahun lalu baru mencapai 16.926 unit.

Data Gaikindo mengungkapkan, 10 mobil listrik terlaris Indonesia pada Maret 2026 diborong semuanya oleh pabrikan China. Tak ada satu pun merek dari negara lain, baik Korea atau pun Jepang.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Ke-10 merek teratas adalah Jaecoo J5 (2.959 unit), BYD Sealion 07 (1.236 unit), BYD M6 (976 unit), Geely X2 (949 unit), BYD Atto 1 (672 unit), Denza D9 (455 unit), Wuling Darion EV (301 unit), VinFast VF3 (258 unit), AION V (238 unit), AION UT (242 unit).

Lonjakan penjualan mobil listrik sejatinya terbilang wajar. Dalam pandangan pengamat otomotif Ridwan Hanif, mobil listrik memang layak dibeli mengingat nyaman digunakan untuk aktifitas harian.

Baca Juga: Pengamat Sebut Penjualan Mobil Listrik Tidak Terdongkrak dari Kenaikan BBM Non Subsidi

“Secara teknis, mobil-mobil listrik sekelas Jaecoo J5 EV atau BYD Atto 1 itu enak banget buat disetir. Rata-rata tenaga motor listrik di kelas ini berkisar di angka 200 H”, kata konten kreator otomotif terkemuka itu.

“Torsinya? Jangan ditanya, instan banget! Biasa torsinya main di kisaran 228 lb-ft, yang kalau kita konversi ke bahasa montir sini, itu sekitar 310 Nm. Bayangin tuh, injak gas dikit, badan langsung nempel ke jok!”, imbuh Ridwan, seperti dilansir dari laman medsosnya.

Dari segi efisiensi, Ridwan juga menyebutkan bahwa kendaraan listrik sungguh sangat efisien.

“Kalau di luar negeri suka diukur pakai MPGe (misal sekitar 115 mpg). Nah, karena 1 mpg itu setara dengan sekitar 0.425 km/liter, berarti efisiensi mobil listrik ini bisa dibilang setara sama mobil bensin yang konsumsinya nyentuh 48 km per liter! Gila kan iritnya?”, tambahnya.

Menurut Ridwan, beli mobil listrik itu value for money-nya bakal berasa banget kalau memang pakai mobil ini buat kendaraan harian, terutama para commuter yang jarak tempuhnya lumayan jauh tiap hari.

“Tapi kalau cuma disimpen di garasi dan dipakai weekend aja buat nongkrong, mending dipikir-pikir lagi deh”, cetusnya.

Walaupun biaya ngecas jauh lebih murah dari beli bensin, pengguna harus ingat soal after sales dan komponen jangka panjangnya.

Pasalnya, baterai EV itu masih mahal banget! Kalau sampai amit-amit rusak di luar garansi atau nabrak batu dari bawah dan nggak di-cover asuransi, harga baterainya itu puluhan juta sendiri. Bahkan untuk kelas premium, gantinya bisa nyentuh ratusan juta, pungkasnya.

So, sesuai saran Ridwan Hanif, jika Anda pengguna mobil listrik wajib untuk selalu berhati-hati, terutama menyangkut baterei. Pasalnya, kalau beneran rusak bisa nangis Bombay. Bisa setengah harga mobilnya.

Baca Juga: Di Saat BBM Non Subsidi Naik, Pemerintah Justru Bahas Aturan Pajak Mobil Listrik

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |