Nabire, Kondisi cuaca kering yang dipengaruhi fenomena El Niño mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan di Papua Tengah. Berdasarkan laporan pemantauan 13 September 2026, sebanyak 203 hotspot terdeteksi di sejumlah kabupaten. Pada saat yang sama, warga di Nabire mengeluhkan asap dan abu sisa pembakaran yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Data pemantauan menunjukkan 203 titik panas tersebut terdiri atas 35 hotspot dengan tingkat kepercayaan rendah, 166 tingkat kepercayaan sedang, dan dua titik dengan tingkat kepercayaan tinggi. Tingkat kepercayaan merupakan indikator kemungkinan adanya titik api di lapangan. Hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi perlu mendapat perhatian dan tindak lanjut lebih cepat.
Nabire Catat Hotspot Terbanyak
Nabire menjadi wilayah dengan jumlah hotspot paling banyak, yakni 122 titik. Setelah itu terdapat Dogiyai dengan 31 titik dan Paniai sebanyak 25 titik. Kabupaten Puncak tercatat memiliki 14 hotspot, sedangkan Puncak Jaya dan Intan Jaya masing-masing empat titik. Deiyai terpantau tiga hotspot. Sementara Kabupaten Mimika tidak tercatat memiliki hotspot dalam pembaruan tersebut.

Besarnya jumlah titik panas di Nabire menjadi perhatian tersendiri, terlebih laporan masyarakat menyebut dampak asap mulai dirasakan di sejumlah kawasan. Warga menyampaikan bahwa kondisi tersebut mengganggu kenyamanan dan aktivitas mereka.
Warga Nabire Keluhkan Asap dan Abu Pembakaran
Keluhan muncul sejak Minggu pagi hingga sore, 13 September 2026. Masyarakat di sejumlah wilayah Nabire mengaku terganggu oleh polusi asap yang diduga berasal dari aktivitas pembakaran.
Maman, warga Girimulyo, mengatakan sisa asap pembakaran telah mencapai wilayah tempat tinggalnya. “Sisa bakaran, asap sudah sampai Girimulyo,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan Yaser, warga Kalibobo. Menurut dia, abu bekas kebakaran juga terlihat beterbangan di kawasan tersebut. Warga Malompo turut mengeluhkan kondisi yang sama.
El Niño Perkuat Risiko Kebakaran
Laporan pemantauan mencatat indeks Southern Oscillation Index (SOI) berada pada -20,3, sedangkan indeks Nino 3.4 mencapai +2,3. Kedua indikator tersebut dalam laporan dikategorikan menunjukkan kondisi El Niño kuat. Fenomena ini diperkirakan berpotensi tetap aktif hingga akhir 2026 dan berkontribusi terhadap berkurangnya curah hujan di sebagian wilayah Papua Tengah.
Kondisi El Niño yang berbarengan dengan puncak musim kemarau pada Agustus–September dapat meningkatkan jumlah hari tanpa hujan, mengurangi ketersediaan air, menaikkan suhu udara siang hari, serta membuat lahan semakin kering. Situasi tersebut pada akhirnya meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan.
Warga Minta Pembakaran Dihentikan
Masyarakat meminta pihak yang sengaja melakukan pembakaran agar menghentikan aktivitas tersebut. Selain berpotensi memicu kebakaran yang lebih luas, asap dan abu dapat mengganggu aktivitas warga serta menurunkan kualitas udara di lingkungan permukiman.
Laporan juga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran secara sembarangan, baik ketika membuka atau membersihkan lahan maupun membakar sampah, khususnya di kawasan yang mudah terbakar seperti semak, hutan, lahan gambut, dan lahan kering.
Jika menemukan titik api, asap, atau indikasi kebakaran, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada pihak berwenang agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin. Pemerintah dan instansi terkait juga didorong memperkuat patroli, pengawasan pembukaan lahan, edukasi masyarakat, serta kesiapan sumber air dan peralatan pemadaman dini.
Masyarakat di Papua Tengah diharapkan terus mengikuti perkembangan informasi cuaca, iklim, El Niño, dan hotspot dari BMKG serta instansi berwenang. Kewaspadaan bersama menjadi penting agar titik panas yang terpantau tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar dan berdampak luas.
[Nabire.Net]

21 hours ago
11

















































