BPBDKP Catat Ada 43 Kejadian Karhutla di Nabire Sejak Juli-Agustus 2026

14 hours ago 10

Nabire, Masyarakat di Provinsi Papua Tengah diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak fenomena El Nino yang menyebabkan kondisi kering berkepanjangan dan meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Kebakaran dan Penyelamatan (BPBDKP) Papua Tengah mencatat 43 kejadian karhutla dalam kurun waktu 18 Juli hingga 20 Agustus 2026.

Sekretaris BPBDKP Papua Tengah, Martinus Rumbino, mengatakan kondisi tersebut membutuhkan perhatian seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, pemerintah bersama berbagai pihak telah melakukan koordinasi sebagai langkah antisipasi sebelum dampak El Nino semakin meluas.

Pernyataan itu disampaikan Martinus ketika ditemui di Posko BPBD eks Bandara Lama, Sabtu (22/8/2026).

El Nino Tingkatkan Risiko Kebakaran

Martinus menjelaskan, El Niño merupakan fenomena iklim yang berkaitan dengan melemahnya angin pasat di kawasan ekuator Samudra Pasifik. Perubahan tersebut menyebabkan peningkatan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik bagian tengah hingga timur dan kemudian memengaruhi pola cuaca di sejumlah wilayah.

BMKG sebelumnya telah memberikan peringatan mengenai potensi El Niño. Kondisi tersebut diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus hingga Oktober. Setelah memasuki Oktober, situasi diproyeksikan mulai berangsur membaik seiring munculnya hujan, meski curah hujan diperkirakan masih relatif rendah.

Dampaknya tidak hanya berupa berkurangnya ketersediaan air. Kekeringan juga dapat meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan, mengganggu produksi pangan, mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok, serta memengaruhi kesehatan masyarakat.

“Yang paling menonjol saat ini adalah kebakaran lahan dan hutan karena mengganggu semua aktivitas masyarakat, termasuk penerbangan,” ujar Martinus.

43 Karhutla dalam Sebulan Lebih

Data BPBDKP Papua Tengah menunjukkan sebanyak 43 kejadian kebakaran hutan dan lahan tercatat sejak 18 Juli hingga 20 Agustus 2026.

Martinus menilai ancaman tersebut tidak bisa ditangani pemerintah dan petugas pemadam kebakaran seorang diri. Pencegahan membutuhkan keterlibatan masyarakat, dunia usaha, akademisi serta seluruh pemangku kepentingan.

Menurutnya, faktor manusia menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian serius. Pembukaan lahan dengan cara membakar, membuang puntung rokok sembarangan, maupun tindakan pembakaran yang disengaja dapat menjadi pemicu kebakaran, terutama ketika vegetasi dan lahan berada dalam kondisi kering.

“Ibaratkan kita berada di area pom bensin, tinggal buang api,” tegasnya.

Nabire Masuk Status Kekeringan dan Karhutla

Saat ini, Kabupaten Nabire telah ditetapkan dalam status kekeringan dan karhutla. Selain itu, Kabupaten Puncak menghadapi persoalan embun beku yang terjadi di tiga distrik.

Sementara itu, pemantauan titik panas menunjukkan adanya indikasi kebakaran di sejumlah wilayah, termasuk Nabire, Dogiyai dan Timika.

Kondisi tersebut menjadi pengingat agar masyarakat tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu api selama periode kering masih berlangsung. Langkah sederhana seperti tidak membakar lahan sembarangan dan tidak membuang puntung rokok ke area yang mudah terbakar dinilai penting untuk mencegah kebakaran meluas.

BPBDKP Papua Tengah juga terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk menghadapi perkembangan kondisi cuaca dan potensi bencana.

Martinus mengajak masyarakat mengambil bagian dalam menjaga lingkungan karena pencegahan menjadi langkah paling penting ketika ancaman karhutla meningkat.

“Intinya, jika kita jaga alam, alam akan jaga kita.”

[Nabire.Net/Sitti Hawa]

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |