(Air Bersih)
Nabire, Dampak fenomena El Nino mulai semakin dirasakan masyarakat di Kabupaten Nabire, Papua Tengah. Selain memicu kekurangan air bersih, kondisi cuaca kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Kebakaran dan Penyelamatan (BPBDKP) Provinsi Papua Tengah bersama BPBD Kabupaten Nabire kini memperkuat penanganan di lapangan. Bantuan air bersih menjadi salah satu langkah yang dilakukan pemerintah untuk membantu warga yang terdampak kekeringan.
Sekretaris BPBDKP Papua Tengah, Martinus Rumbino, mengatakan koordinasi dengan BPBD Kabupaten Nabire terus dilakukan agar kebutuhan masyarakat dapat ditangani secara bertahap.
“Kami secara khusus berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Nabire untuk membantu menyuplai air bersih kepada masyarakat,” kata Martinus saat ditemui di Posko BPBD eks Bandara Lama, Sabtu (22/8/2026).
Empat Wilayah Mendapat Distribusi Air
Menurut Martinus, pendistribusian air bersih telah menyasar empat wilayah, yaitu Distrik Teluk Kimi, Nabire Kota, Nabire Barat dan Wanggar.
Penyaluran tersebut dilakukan sebagai respons terhadap berkurangnya ketersediaan air akibat kondisi kemarau yang diperparah fenomena El Niño. Pemerintah bersama petugas kebencanaan masih memantau wilayah yang membutuhkan bantuan lebih lanjut.
Di tengah persoalan air bersih, ancaman kebakaran lahan juga menjadi perhatian serius. Penanganan karhutla telah dilakukan sejak Juli 2026 setelah kebakaran pertama dilaporkan terjadi di kawasan belakang PLTMG Kalibobo.
Situasi kemudian kembali meningkat pada 20 Agustus 2026. Dalam satu hari, petugas dilaporkan harus menangani sekitar 10 titik kebakaran lahan.
Secara keseluruhan, BPBDKP mencatat 43 kejadian kebakaran hutan dan lahan sejak 18 Juli hingga 20 Agustus 2026.
Armada dan Sumber Air Jadi Kendala
Upaya pemadaman tidak selalu berjalan mudah. Petugas menghadapi keterbatasan armada serta lokasi sumber air yang cukup jauh dari titik kebakaran. Kondisi tersebut membuat proses pengisian ulang kendaraan pemadam membutuhkan waktu lebih lama.
Untuk menjaga kesiapan personel, petugas bekerja menggunakan sistem regu. Saat ini terdapat tiga regu yang masing-masing terdiri dari 18 personel.
Martinus menilai penanganan kekeringan dan karhutla membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Menurutnya, persoalan tersebut tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada BPBD dan petugas pemadam kebakaran.
Masyarakat juga diharapkan ikut mencegah munculnya titik api, terutama selama kondisi cuaca kering masih berlangsung. Kewaspadaan terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran dinilai penting untuk mencegah meluasnya karhutla.
Masyarakat Diminta Segera Melapor
BPBDKP Papua Tengah mengimbau warga segera melaporkan apabila menemukan kebakaran atau membutuhkan bantuan penanganan. Laporan dapat disampaikan melalui layanan BPBDKP Papua Tengah di nomor 0821-9855-0001.
Pemerintah berharap kerja sama antara petugas, masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan dapat mempercepat penanganan kekeringan sekaligus menekan jumlah kebakaran lahan di Nabire.
Dengan kondisi El Niño yang masih memberikan dampak terhadap cuaca kering, masyarakat di wilayah rawan diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap ketersediaan air dan potensi kebakaran.
[Nabire.Net/Sitti Hawa]

14 hours ago
10

















































