Omdia: Pasar Smartphone Global Tumbuh Tipis di Kuartal I 2026

18 hours ago 11

Selular.ID – Firma riset pasar global Omdia melaporkan pengiriman smartphone dunia pada kuartal pertama 2026 tumbuh tipis 1 persen secara tahunan menjadi 298,5 juta unit.

Data yang dirilis pada 30 April 2026 ini menunjukkan pasar global masih mampu mencatatkan pertumbuhan di tengah tekanan biaya komponen, lonjakan harga memori, dan gangguan rantai pasok yang mulai memengaruhi industri teknologi global.

Pertumbuhan tersebut dinilai bukan sepenuhnya mencerminkan pemulihan permintaan konsumen.

Omdia menegaskan kenaikan pengiriman lebih banyak didorong strategi vendor besar seperti Samsung dan Apple yang mempercepat distribusi perangkat ke kanal penjualan sebelum kenaikan biaya produksi semakin menekan margin bisnis.

Langkah ini dikenal sebagai vendor-led front-loading, yakni strategi mempercepat suplai ke distributor untuk mengantisipasi lonjakan harga komponen utama seperti DRAM dan NAND.

Dalam kuartal pertama tahun ini, harga mobile DRAM dan NAND dilaporkan melonjak sekitar 90 persen dibanding kuartal sebelumnya, dan diperkirakan naik lagi sekitar 30 persen pada kuartal kedua. Kondisi ini meningkatkan biaya material perangkat secara signifikan.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Laporan Omdia menunjukkan dinamika pasar smartphone global pada awal 2026 berada di persimpangan antara dorongan suplai dan lemahnya permintaan riil.

Inflasi global yang masih tinggi menekan daya beli konsumen, terutama pada segmen menengah dan entry-level, sehingga siklus penggantian perangkat kembali melambat di banyak negara.

Samsung kembali menjadi vendor smartphone terbesar dunia pada kuartal pertama 2026 dengan pengiriman mencapai 65,4 juta unit, tumbuh 8 persen secara tahunan.

Posisi ini didorong performa kuat seri flagship Galaxy S26 yang mencatatkan pre-order global lebih dari 10 persen dibanding pendahulunya, serta distribusi stabil lini Galaxy A di pasar berkembang.

Apple berada di posisi kedua dengan performa solid berkat permintaan stabil terhadap seri iPhone 17. Strategi harga yang relatif konsisten membantu perusahaan menjaga momentum meskipun beberapa wilayah mengalami tekanan distribusi.

Di luar dua pemain teratas, kondisi pasar lebih menantang. OPPO, termasuk sub-brand realme dan OnePlus, menempati posisi keempat dengan pengiriman 30,7 juta unit atau turun 6 persen secara tahunan.

Vivo berada di posisi kelima dengan 21,3 juta unit, turun 7 persen.

Persaingan di luar lima besar menunjukkan pergeseran menarik. HONOR menjadi vendor dengan pertumbuhan tercepat di jajaran 10 besar setelah mencatat ekspansi agresif di Timur Tengah dan Afrika.

Di pasar domestik Tiongkok, Huawei juga memperlihatkan performa kuat berkat strategi harga kompetitif dan penetrasi ekosistem perangkat yang semakin matang.

Omdia menyebut kuartal pertama 2026 sebagai fase awal dari siklus gangguan pasokan berbasis komponen, terutama akibat meningkatnya kebutuhan memori untuk infrastruktur kecerdasan buatan atau AI data center.

Lonjakan permintaan sektor AI disebut mulai menyerap kapasitas produksi semikonduktor yang sebelumnya menopang perangkat konsumen.

Kondisi ini memunculkan tekanan baru bagi vendor smartphone, terutama produsen Android yang mengandalkan fleksibilitas harga untuk menjaga pangsa pasar.

Banyak vendor kini mulai menerapkan strategi portofolio yang lebih ketat, menunda peluncuran tertentu, dan lebih selektif menentukan wilayah distribusi.

Menurut Omdia, tantangan terbesar industri smartphone pada semester kedua 2026 adalah kesenjangan antara sell-in dan sell-out.

Sell-in mengacu pada pengiriman perangkat ke distributor atau kanal penjualan, sementara sell-out mencerminkan penjualan aktual ke konsumen.

Saat pengiriman tumbuh lebih cepat dibanding penjualan riil, stok berlebih dapat menumpuk di pasar. Situasi ini berpotensi memicu koreksi pengiriman pada kuartal kedua dan paruh kedua tahun ini ketika vendor mulai menyesuaikan volume produksi.

Research Manager Omdia, Le Xuan Chiew, menilai performa awal tahun ini menunjukkan sinyal yang terdistorsi oleh dinamika suplai jangka pendek.

Menurutnya, aktivitas front-loading telah mendongkrak angka pengiriman, namun sekaligus menciptakan tekanan inventaris yang berpotensi membebani kuartal berikutnya.

Bagi industri smartphone, situasi ini memperlihatkan bahwa pemulihan pasar global masih rapuh. Meski permintaan premium tetap bertahan, tekanan biaya komponen, inflasi konsumen, dan gangguan rantai pasok akan menjadi faktor penentu arah pasar sepanjang 2026.

Bagi konsumen, implikasinya bisa berupa kenaikan harga smartphone baru, terutama di segmen entry-level dan menengah, ketika vendor mulai meneruskan beban biaya produksi ke harga jual.

Untuk pasar seperti Indonesia, strategi harga dan efisiensi distribusi akan menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing di tengah ketatnya kompetisi perangkat mobile global.

Baca Juga: Keluar dari Pasar Smartphone, Asus Beralih ke Tablet

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |