Gelar Mimbar Rakyat di Nabire, IPMADO Tuntut Investigasi Insiden Dogiyai

11 hours ago 9
(Gelar Mimbar Rakyat di Nabire, IPMADO Tuntut Investigasi Insiden Dogiyai) (Gelar Mimbar Rakyat di Nabire, IPMADO Tuntut Investigasi Insiden Dogiyai)

Nabire, 18 April 2026 – Ikatan Pelajar Mahasiswa Dogiyai (IPMADO) menggelar aksi mimbar rakyat di kawasan Pasar Karang Tumaritis, Nabire, Papua Tengah, Sabtu (18/4/2026). Dalam aksi tersebut, massa mendesak aparat penegak hukum melakukan investigasi transparan dan menyeluruh atas insiden penembakan di Kabupaten Dogiyai pada 31 Maret hingga 2 April 2026 yang mereka sebut sebagai peristiwa “Dogiyai Berdarah”.

Puluhan peserta aksi mulai berkumpul sejak pagi hari dengan membawa poster, spanduk, serta foto-foto yang mereka klaim sebagai korban dari kalangan warga sipil. Dalam orasi yang disampaikan secara bergantian, massa menyoroti belum adanya kejelasan penanganan kasus serta menuntut keterbukaan informasi kepada publik.

Koordinator lapangan aksi, Ananias Douw, menyatakan pihaknya menemukan sejumlah hal yang dinilai belum jelas dalam peristiwa tersebut. Ia menegaskan pentingnya penyelidikan independen guna memastikan fakta yang sebenarnya.

“Ada hal-hal yang kami nilai belum jelas. Karena itu kami meminta adanya penyelidikan terbuka agar kebenaran dapat diketahui oleh publik,” ujarnya di hadapan massa aksi.

Dalam orasi tersebut, massa juga menyinggung meninggalnya seorang anggota kepolisian bernama Juventus Edowai. Mereka menyampaikan adanya dugaan luka di bagian leher korban, namun informasi tersebut diakui masih memerlukan pembuktian melalui proses penyelidikan resmi.

Berdasarkan data awal yang disampaikan peserta aksi, insiden di Dogiyai diduga bermula dari pembunuhan seorang anggota polisi oleh pihak tak dikenal. Peristiwa itu kemudian diikuti operasi penyisiran aparat keamanan yang disebut berujung pada jatuhnya korban dari kalangan warga sipil.

Massa aksi menyebut sedikitnya lima warga sipil meninggal dunia dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka dalam rangkaian peristiwa tersebut. Mereka juga menyoroti dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM), termasuk penyisiran di tengah warga sipil serta penggunaan senjata api yang dinilai tidak proporsional.

Selain itu, massa menyatakan adanya dampak sosial berupa rasa takut di masyarakat yang menyebabkan sebagian warga memilih mengungsi dari wilayah terdampak.

Dalam pernyataan sikapnya, peserta aksi mempertanyakan pendekatan keamanan dalam penanganan konflik di Papua, khususnya di wilayah Dogiyai. Mereka menilai pendekatan yang tidak proporsional berpotensi memperpanjang siklus kekerasan di tengah masyarakat.

“Negara seharusnya hadir untuk melindungi masyarakat, bukan justru memperbesar konflik. Penegakan hukum harus mengedepankan keadilan, bukan balas dendam,” demikian salah satu pernyataan yang disampaikan dalam mimbar rakyat tersebut.

Pantauan di lokasi, jalannya aksi mendapat pengamanan dari aparat kepolisian Polres Nabire. Sejumlah personel berjaga di sekitar area demonstrasi dengan membentuk barikade guna mengantisipasi potensi gangguan keamanan. Aksi berlangsung tertib dan kondusif hingga selesai.

Melalui aksi tersebut, IPMADO berharap pemerintah dan aparat penegak hukum dapat memberikan perhatian serius terhadap kasus di Dogiyai, serta memastikan proses hukum berjalan secara adil, transparan, dan menghormati prinsip hak asasi manusia bagi seluruh pihak yang terdampak.

[Nabire.Net/Marten Dogomo]

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |