Nabire, 13 Juni 2026 – Ada suara yang sudah lama berhenti mengudara, tetapi tidak pernah hilang dari ingatan. Suara itu tinggal di hati orang-orang yang pernah tumbuh bersama radio. Suara itu bernama Pilihan Pendengar (Pilpen) dan Terminal Ratel (Radio Telepon).
Ada masa ketika radio bukan sekadar alat untuk mendengar lagu, tetapi menjadi teman yang menemani setiap keluarga di rumah. Radio Republik Indonesia adalah jantungnya. Setiap malam jutaan warga Indonesia dari Sabang sampai Merauke menempelkan telinga mereka ke kota kayu itu, mendengar berita, mendengar musik, merasakan bahwa mereka adalah satu bangsa.
Pada awal tahun 1990-an, ketika telepon masih menjadi barang mewah dan internet belum ada, radio menjadi jendela yang menghubungkan satu rumah dengan rumah lainnya. Saat alunan Whisky and Soda gubahan Roberto Delgado yang lebih populer karena menjadi theme song lagu Srimulat terdengar dari sebuah studio sederhana di RRI Nabire, salam, lagu, dan cerita mengalir menembus malam, menyapa siapa saja yang sedang mendengarkan. Bagi banyak warga Nabire, kenangan itu hadir melalui acara Pilpen dan Terminal Ratel yang disiarkan oleh RRI Nabire.
Pilpen hadir di siang hari, menemani waktu istirahat dengan lagu-lagu pilihan masyarakat. Sementara Terminal Ratel datang saat malam tiba. Sepanjang malam, udara Nabire dipenuhi suara yang terasa begitu dekat, seolah penyiar sedang berbicara di ruang tamu setiap pendengar.
Lama-kelamaan, Terminal Ratel semakin dicintai hingga ikut mengudara pada siang hari. Radio bukan lagi sekadar alat interaksi antara angkasawan/angkasawati RRI dengan pendengarnya, tetapi sahabat yang setia menemani kesunyian, menghibur yang lelah, dan mendekatkan mereka yang berjauhan.
Di balik suara-suara itu, ada orang-orang yang menghidupkan harapan lewat mikrofon. Ada Ibu Sintike Nelwan yang saat itu menjabat sebagai Kepala Subsiaran, Ibu Sri Rahayu yang akrab disapa Mbak Deno, almarhum Joyo Suparjo, Amir Kadang, Riris Pane, Malikam Sangaji, Herman Taliwuna dan Saleh Ali. Mereka bekerja tanpa banyak sorotan, tetapi meninggalkan jejak yang sulit dilupakan.
(Ibu Sintike Nelwan, Kasubsi RRI Nabire/Dokpri. Hengki Manopo)Mungkin mereka tidak pernah menyangka bahwa puluhan tahun kemudian, nama-nama itu masih disebut dengan penuh rasa hormat. Sebab yang mereka siarkan bukan hanya lagu, melainkan juga kebersamaan.
(Ibu Sri Rahayu atau lebih dikenal dengan sapaan udara Mbak Denok/Dokpri FB Denok Rayahu)Tahun 2007 menjadi babak baru. Sesuai kebijakan RRI Pusat, Pilpen dan Terminal Ratel perlahan berganti wajah. Hadir program-program baru seperti musik tradisional dan budaya, Pro Dangdut, serta Ruang Rindu yang membawa warna dan semangat baru.
Namun, ada kenangan yang tidak bisa diganti oleh waktu.
Ia tetap hidup di dalam ingatan orang-orang yang pernah memutar knop radio dengan penuh harap, menunggu lagu kesukaan diperdengarkan, atau tersenyum saat namanya disebut di udara.
Pilpen dan Terminal Ratel mungkin telah selesai sebagai sebuah program. Tetapi bagi masyarakat Nabire, keduanya adalah puisi yang pernah dibacakan oleh radio—tentang persahabatan, kerinduan, dan masa ketika sebuah suara mampu membuat banyak hati merasa dekat.
Dan mungkin benar, siaran Terminal Ratel dan Pilpen boleh berakhir. Tetapi kenangan yang lahir dari sebuah suara akan terus mengudara di dalam hati, melampaui waktu yang terus berjalan.
[Nabire.Net]

9 hours ago
4

















































