Warga Kampung Samabusa Nabire Sulap Halaman Rumah Jadi Arena Nobar Piala Dunia 2026

9 hours ago 9

Nabire, 17 Juni 2026 – Ketika sebagian orang menikmati pertandingan Piala Dunia 2026 dari ruang keluarga yang nyaman, warga Kompleks Sawado, Kampung Samabusa, Distrik Teluk Kimi, memiliki cerita yang berbeda. Mereka harus berjuang menaklukkan keterbatasan demi satu tujuan sederhana: berkumpul bersama menyaksikan pesta sepak bola terbesar di dunia.

Di tengah suasana kampung yang dikelilingi perbukitan, warga berhasil menghadirkan titik nonton bareng (nobar) yang kini menjadi pusat kebersamaan masyarakat. Bukan karena fasilitas yang lengkap, melainkan karena semangat gotong royong yang tumbuh dari hati.

Koordinator nobar, Jack Sayori, mengenang bagaimana semuanya bermula. Sebelum membeli antena, ia terlebih dahulu mencari informasi ke TVRI dan penjual peralatan elektronik mengenai kemungkinan menangkap siaran televisi di lokasi tersebut.

“Katanya sinyal bisa ditangkap asalkan tidak terhalang gunung. Memang ada gunung yang menghalangi, tetapi kami melihat ada sedikit celah di antara dua gunung,” ujarnya.

Celah kecil itulah yang kemudian menjadi harapan besar bagi warga Sawado. Dengan memanfaatkan bambu sebagai tiang antena, mereka memasangnya tepat pada titik yang dianggap mampu menangkap siaran televisi.

Perjuangan tidak berhenti di situ. Antusiasme masyarakat yang begitu tinggi justru memunculkan tantangan baru. Banyak warga ingin menonton, namun fasilitas yang tersedia sangat terbatas.

Berbekal semangat kebersamaan, warga bersama sejumlah pemuda mulai mempersiapkan segala kebutuhan sejak dua minggu sebelum pembukaan Piala Dunia. Halaman rumah salah satu keluarga dipinjamkan sebagai lokasi nobar. Bambu dan terpal disulap menjadi tenda sederhana. Sebuah baliho dijadikan layar utama, sementara infokus disewa menggunakan dana swadaya masyarakat.

Bangku-bangku penonton pun dibuat secara manual. Bambu yang diikat menggunakan akar pohon dirangkai menjadi enam deret tempat duduk yang masing-masing mampu menampung empat hingga lima orang. Tidak ada kursi mewah. Tidak ada tribun megah. Namun setiap sudut lokasi itu dipenuhi semangat yang sulit diukur dengan materi.

“Yang penting masyarakat bisa berkumpul dan menonton bersama,” kata Jack.

Menariknya, nobar ini tidak hanya menjadi ajang menyaksikan pertandingan sepak bola. Ia berubah menjadi ruang pertemuan warga dari enam RT yang selama ini jarang berkumpul dalam satu kesempatan.
Setiap malam, bahkan sejak pukul 00.00 WIT, masyarakat sudah mulai berdatangan. Anak-anak, pemuda hingga orang tua duduk berdampingan menunggu laga dimulai.

Untuk konsumsi, warga membuat kesepakatan sederhana. Setiap kelompok yang mendukung tim tertentu bergiliran menyiapkan makanan ringan dan minuman.
Mungkin hanya kue sederhana dan secangkir kopi hitam yang tersaji. Namun di balik itu terdapat kehangatan yang tidak bisa dibeli. Canda, tawa, dan cerita mengalir di antara mereka, menghidupkan suasana kampung yang sebelumnya terasa sunyi ketika malam tiba.

Kesepakatan warga juga menjadi kunci terciptanya suasana aman dan nyaman. Mereka bersama-sama menjaga ketertiban selama nobar berlangsung.

“Kalau ada yang mabuk boleh menonton, tetapi di luar pagar. Karena yang menonton bukan hanya orang dewasa, anak-anak juga banyak,” ujar Jack.

Dalam kebersamaan itu, warga tidak hanya membicarakan sepak bola. Berbagai persoalan kampung ikut didiskusikan, termasuk keamanan lingkungan menyusul kasus pencurian lampu jalan yang sempat terjadi.

Piala Dunia akhirnya menjadi lebih dari sekadar pertandingan. Ia menjadi alasan untuk kembali duduk bersama, saling mengenal, dan memperkuat hubungan antarwarga.

Di Kompleks Sawado, dari celah dua gunung yang memungkinkan siaran televisi masuk, lahir pula sebuah celah harapan yang mempertemukan masyarakat dalam semangat persaudaraan.

Malam-malam yang biasanya hanya diiringi suara kendaraan yang melintas dan nyanyian jangkrik kini berubah menjadi riuh sorak-sorai pendukung sepak bola. Sebuah bukti bahwa keterbatasan tidak pernah mampu mengalahkan kekuatan gotong royong.

Warga Sawado menunjukkan bahwa dengan swadaya, kebersamaan, dan tekad yang kuat, sebuah kampung dapat menciptakan kebahagiaannya sendiri. Dan di tengah gemerlap Piala Dunia 2026, mereka telah memenangkan sesuatu yang jauh lebih berharga: persatuan.

[Nabire.Net/Sitti Hawa]

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |