Mulai Tahun Ajaran Baru, Semua Sekolah di Nabire Wajib Terapkan Sekolah Ramah Anak, Bullying Jadi Target Utama

14 hours ago 5

Nabire, Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire memperkuat komitmennya menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman melalui penerapan program Sekolah Ramah Anak di seluruh satuan pendidikan. Kebijakan tersebut mulai diterapkan pada tahun ajaran baru sebagai langkah nyata menekan kasus kekerasan dan perundungan (bullying) di lingkungan sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, Dra. Dina Pidjer, M.M., mengatakan bahwa setiap sekolah kini diwajibkan menjadikan prinsip Sekolah Ramah Anak sebagai bagian dari penyelenggaraan pendidikan, bukan sekadar program pendukung.

Menurutnya, konsep tersebut harus diterapkan dalam aktivitas belajar mengajar sehari-hari sehingga seluruh warga sekolah memiliki tanggung jawab menciptakan suasana yang aman, nyaman, dan menghargai hak setiap peserta didik.

“Mulai tahun ajaran baru ini semua sudah wajib menjadikan sekolah itu sebagai sekolah ramah anak,” ujar Dina.

Ia menjelaskan bahwa Sekolah Ramah Anak menempatkan siswa sebagai subjek yang harus merasa terlindungi, dihargai, serta memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat maupun persoalan yang mereka hadapi kepada guru maupun teman sebaya.

Pencegahan Bullying Menjadi Prioritas

Pencegahan bullying menjadi salah satu fokus utama dalam implementasi program tersebut. Dinas Pendidikan Nabire telah mendorong berbagai sekolah melakukan langkah preventif melalui sosialisasi, pemasangan media kampanye bertema Stop Bullying, hingga melibatkan siswa dalam kegiatan menulis dan menyampaikan komitmen untuk menghentikan perundungan.

Namun, menurut Dina, upaya tersebut tidak cukup hanya melalui kampanye visual. Pendekatan yang lebih personal antara guru dan siswa dinilai jauh lebih efektif dalam mendeteksi persoalan sejak dini.

Ia berharap guru tidak hanya menjalankan fungsi sebagai pendidik di dalam kelas, tetapi juga menjadi pendamping yang mampu membangun hubungan penuh kepercayaan dengan peserta didik.

“Guru lebih mendekati anak sebagai teman. Kita menjalin komunikasi yang baik dengan anak,” katanya.

Dengan komunikasi yang terbuka, berbagai persoalan yang dialami siswa dapat diketahui lebih awal sehingga potensi konflik maupun tindakan kekerasan dapat dicegah sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

Menghargai Perbedaan sebagai Dasar Kebersamaan

Dina menegaskan bahwa Sekolah Ramah Anak juga mengajarkan nilai toleransi serta penghargaan terhadap keberagaman. Perbedaan latar belakang keluarga, karakter, budaya, maupun kemampuan akademik tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan intimidasi atau perundungan.

Sebaliknya, keberagaman harus menjadi kekuatan yang mempererat hubungan antarsiswa.

“Menjadikan teman itu sebagai teman, menjadikan sebagai saudara. Kita melihat suatu perbedaan itu jangan membuat kita menjadi pemicu perselisihan, tetapi justru perbedaan itu membuat kita bersatu,” jelasnya.

Melalui pendekatan tersebut, sekolah diharapkan mampu membangun budaya saling menghormati sekaligus membentuk karakter peserta didik yang memiliki empati dan kepedulian terhadap sesama.

Peran Orang Tua dan Masyarakat Sangat Dibutuhkan

Dinas Pendidikan menilai keberhasilan menciptakan sekolah yang aman tidak dapat dibebankan hanya kepada pihak sekolah. Orang tua memiliki peran penting dalam mengawasi aktivitas serta pergaulan anak ketika berada di luar lingkungan pendidikan.

Selain itu, masyarakat juga diharapkan turut berpartisipasi apabila melihat adanya potensi perselisihan yang melibatkan anak-anak.

“Sekolah dan orang tua kita sama-sama kerja sama mengawasi anak-anak kita,” ujar Dina.

Ia mengimbau masyarakat tidak hanya menunggu aparat keamanan ketika melihat konflik yang berpotensi memicu kekerasan, tetapi ikut melakukan pencegahan secara bijaksana dan mengedepankan keselamatan semua pihak.

Menjangkau Ratusan Sekolah di Nabire

Program Sekolah Ramah Anak akan diterapkan secara bertahap di seluruh jenjang pendidikan di Kabupaten Nabire. Saat ini terdapat sekitar 130 sekolah dasar (SD), 57 sekolah menengah pertama (SMP), serta 47 SMA dan SMK yang menjadi sasaran penguatan program tersebut.

Langkah ini juga sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Papua Tengah yang sebelumnya mendorong seluruh satuan pendidikan menjadi ruang belajar yang inklusif, aman, serta bebas dari segala bentuk kekerasan dan perundungan.

Melalui penerapan Sekolah Ramah Anak, Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire berharap sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi lingkungan yang mampu membentuk karakter, menanamkan nilai saling menghormati, serta mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Dengan kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat, upaya menciptakan dunia pendidikan yang aman bagi seluruh peserta didik diharapkan dapat terwujud secara berkelanjutan.

[Nabire.Net/Musa Boma]

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |