Deiyai, Pemerintah Kabupaten Deiyai terus mendorong pengembangan ekonomi masyarakat berbasis kampung melalui sektor peternakan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menyediakan mesin pencacah rumput bagi masyarakat yang menerima bantuan bibit babi, sekaligus memperkuat peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam mengembangkan usaha peternakan di 67 kampung.
Program tersebut mendapat dukungan dari pengusaha asli Orang Asli Papua (OAP) asal Deiyai, Marco Yawalka, yang memproduksi mesin pencacah rumput dan sejumlah peralatan tepat guna lainnya.
Penyerahan mesin secara simbolis berlangsung di Aula SMA Negeri 1 Tigi, Kamis (13/8/2026). Mesin diserahkan Marco Yawalka kepada Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Kabupaten Deiyai, Dr. Ferdinant Pakage, S.E., M.M., M.AP., untuk selanjutnya dimanfaatkan oleh kampung-kampung penerima.
Ferdinant menjelaskan, pengadaan mesin pencacah rumput merupakan bagian lanjutan dari program pengembangan peternakan yang sebelumnya telah dimulai melalui pembagian bibit babi menggunakan Dana Desa.

Menurutnya, bantuan bibit ternak saja belum cukup jika masyarakat menghadapi kesulitan dalam menyediakan pakan. Karena itu, pemerintah berupaya menyediakan peralatan yang dapat membantu peternak mengolah bahan pakan secara lebih mudah dan efisien.
“Kemarin kami sudah membagikan bibit babi. Sekarang kami menyerahkan mesin pencacah rumput agar para peternak yang menerima bibit babi dapat lebih mudah menyediakan pakan ternak sehingga usaha peternakan mereka semakin berkembang,” ujar Ferdinant.
Mesin tersebut terutama digunakan untuk mencacah rumput yang menjadi salah satu sumber pakan ternak masyarakat. Pemerintah juga membuka peluang pengembangan jenis mesin lain sesuai kebutuhan kampung dan kemampuan penganggaran masing-masing.
Ke depan, peralatan serupa dapat dikembangkan untuk memotong ubi, singkong, keladi hingga batang pisang yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan.
Namun, penyaluran tahap awal dilakukan berdasarkan pemesanan yang telah disampaikan kampung. Kampung yang belum melakukan pemesanan belum mendapatkan mesin pada tahap tersebut.
Pengadaan Harus Sesuai Kebutuhan Masyarakat
Marco Yawalka mengatakan, teknologi yang diberikan kepada masyarakat seharusnya berangkat dari kondisi dan kebutuhan nyata di lapangan.
Ia menilai mesin pencacah rumput lebih relevan bagi sebagian peternak di Deiyai karena rumput dan daun masih menjadi bahan pakan yang banyak digunakan dalam pemeliharaan babi.
“Pemerintah harus melihat kebutuhan masyarakat sebelum melakukan pengadaan barang. Jangan masyarakat membutuhkan mesin pencacah rumput, tetapi yang diadakan justru mesin pelet atau mesin penggiling jagung yang fungsi dan cara penggunaannya berbeda. Pengadaan harus benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat,” kata Marco.
Menurut Marco, DPMK sebelumnya telah memesan sekitar 35 unit mesin pencacah rumput. Ia menyebut kapasitas produksinya masih dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan kampung maupun menghasilkan berbagai peralatan tepat guna lainnya.
Selain mesin pencacah rumput, ia juga mengembangkan sejumlah inovasi seperti mesin pemotong ubi, singkong, keladi dan batang pisang serta kompor berbahan oli bekas.
Membuka Peluang Ekonomi bagi Anak Daerah
Penggunaan produk buatan pengusaha lokal dinilai memberikan manfaat yang lebih luas. Selain menyediakan peralatan bagi masyarakat, kebijakan tersebut juga membuka ruang bagi pelaku usaha OAP untuk mengembangkan keterampilan, produksi dan lapangan pekerjaan.
Marco mengapresiasi keputusan DPMK yang memberikan kepercayaan kepada produk hasil inovasi putra daerah.
“Di tengah banyaknya produk dari luar daerah, Kepala Dinas DPMK masih memberikan kepercayaan kepada hasil inovasi anak-anak negeri sendiri. Kepercayaan ini secara tidak langsung telah membuka lapangan kerja bagi kami sekaligus mendorong kami untuk terus berinovasi menghasilkan produk yang bermanfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.
Pemerintah Kabupaten Deiyai berharap pengembangan peralatan peternakan tersebut dapat membantu masyarakat meningkatkan produktivitas usaha. Program ini juga diarahkan untuk memperkuat BUMDes sebagai penggerak ekonomi di tingkat kampung.
Dengan dukungan bibit ternak, ketersediaan pakan dan peralatan yang sesuai kebutuhan, pengembangan peternakan babi di 67 kampung diharapkan tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi berkembang menjadi kegiatan ekonomi produktif yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat menuju terwujudnya Ekina Tonawi.
[Nabire.Net]

7 hours ago
6

















































