Nabire, 1 Mei 2026 – Di penghujung bulan April 2016, kisah ini bermula dari sebuah rumah sederhana di kawasan Girimulyo—tempat di mana sepasang suami istri menjalani hidup sebagai perantau. Tak ada yang tampak janggal dari luar. Sang suami, Kismo (41), asal Boyolali, dikenal sebagai penjual baju keliling sekaligus tukang ojek. Sementara istrinya, Rusiyanah (39), asal Pekalongan, bekerja sebagai pelayan di sebuah rumah makan.
Namun di balik kehidupan sehari-hari itu, tersimpan bara yang perlahan membesar. Rusiyanah dikenal ramah. Ia kerap menyapa dan berbincang dengan para pelanggan di tempatnya bekerja. Sikap itu, yang bagi orang lain adalah keramahan biasa, justru menjadi sumber kecurigaan bagi suaminya. Rasa cemburu mulai tumbuh, lalu berubah menjadi amarah yang dipendam diam-diam.
Hari-hari berlalu, tetapi kecurigaan itu tak pernah benar-benar padam. Hingga pada Selasa, 26 April 2016, semuanya mencapai titik akhir. Dengan alasan tertentu, Kismo mengajak istrinya pergi ke sebuah tempat. Tak ada firasat buruk dari korban. Ia mengikuti ajakan itu seperti biasa. Namun perjalanan itu justru menjadi yang terakhir.
Di lokasi tersebut, pertengkaran yang selama ini terpendam akhirnya meledak. Emosi yang tak terkendali berujung pada tindakan fatal. Dalam sekejap, rumah tangga yang telah dibina hampir dua dekade runtuh dalam tragedi. Malam itu, tak ada saksi. Hanya sunyi yang menyelimuti.
Keesokan paginya, Rabu 27 April 2016, suasana tenang Pantai Cemara Karadiri berubah drastis. Dua warga yang hendak melaut melihat sebuah kantong plastik hitam besar tergeletak di tepi pantai. Awalnya mereka mengira itu hanyalah sampah.
Namun rasa penasaran membawa mereka pada kenyataan yang mengejutkan. Isi kantong itu bukan barang biasa. Penemuan tersebut sontak menggemparkan warga sekitar. Dalam hitungan jam, lokasi dipenuhi aparat kepolisian. Garis polisi terpasang, dan penyelidikan pun dimulai.
Identitas korban perlahan terungkap. Polisi menghubungkan temuan di pantai dengan laporan orang hilang di wilayah Girimulyo. Semua petunjuk mulai mengarah pada lingkaran terdekat korban. Dan satu nama mulai menjadi perhatian: suaminya sendiri.
Di saat polisi menyusun potongan demi potongan kejadian, Kismo justru menghilang. Ia tak berada di rumah, dan tak diketahui keberadaannya. Namun sebuah petunjuk muncul—pesan singkat dari ponsel korban yang dikirim ke keluarganya.
Dalam pesan itu, korban seolah masih hidup dan berada di daerah terpencil dengan sinyal terbatas. Bagi keluarga, pesan itu sempat menenangkan. Namun bagi penyidik, justru sebaliknya—itulah awal dari kecurigaan yang semakin kuat. Polisi bergerak cepat.
(Kismo saat menjalani reka ulang)Dua hari setelah penemuan jasad, tepatnya Jumat 29 April 2016, pelarian Kismo berakhir di Pelabuhan Samabusa Nabire. Ia ditangkap saat mencoba meninggalkan kota Nabire. Tanpa banyak perlawanan, ia akhirnya mengakui semuanya.
Motifnya: cemburu. Pengakuan itu seolah menjawab semua pertanyaan, tetapi meninggalkan luka yang jauh lebih dalam.
Di Pekalongan, Jawa Tengah, keluarga korban menerima kabar duka dengan penuh keterkejutan. Mereka tak hanya kehilangan orang yang dicintai, tetapi juga harus menerima kenyataan pahit bahwa pelakunya adalah bagian dari keluarga sendiri.
Adik korban, Uci (27), mengenang bagaimana kakaknya menjalani rumah tangga selama hampir 18 tahun. Ia juga mengungkap bahwa pelaku memiliki sifat temperamental dan kerap melakukan kekerasan.
(Adik korban, Uci)Namun tak ada yang menyangka akhir kisahnya akan seburuk ini. Keluarga pun menuntut keadilan. Saat itu mereka berharap pelaku mendapat hukuman setimpal dan jenazah korban dapat dipulangkan ke kampung halaman untuk dimakamkan secara layak.
Kismo yang dulu diliputi amarah, kini hanya bisa diam dalam penyesalan. Ia menjalani hari-hari dengan luka, bukan hanya fisik, tetapi juga batin. Tidak ada lagi kemarahan yang tersisa—yang ada hanyalah kesadaran pahit atas apa yang telah terjadi.
(Penyesalan Kismo)Kasus ini menjadi salah satu tragedi paling membekas di Nabire pada tahun itu. Bukan hanya karena kekejamannya, tetapi juga karena kisah di baliknya—tentang cemburu, kemarahan, dan hubungan yang rapuh.
Kini, bertahun-tahun telah berlalu. Pantai Karadiri kembali seperti semula. Ombak terus bergulung, nelayan kembali melaut, dan kehidupan berjalan seperti biasa.
Namun bagi sebagian orang, tempat itu akan selalu menyimpan satu cerita—tentang sebuah tragedi yang bermula dari rumah, dan berakhir di tepi laut.
[Nabire.Net]

5 hours ago
6















































