Dogiyai, 22 Maret 2026 – Pertama kali saya melihatnya, ia sedang menggoreskan kuas di dinding tembok bak air berkapasitas 5.000 liter yang baru dibangun di antara Kantor Bupati dan Sekretariat Daerah Kabupaten Dogiyai. Sesekali ia mencelupkan kuas ke dalam campuran cat di atas palet. Gerakannya tenang, telaten, dan penuh fokus. Ia berbicara seperlunya ketika diajak cerita. Hari itu, saya memilih membiarkannya tenggelam dalam pekerjaannya.
Dalam hati saya berkata, “Suatu waktu sa harus duduk dan berbincang dengan dia. Kisah pemuda Dogiyai berbakat ini layak dibagikan kepada publik.”

Beberapa hari kemudian, saya kembali menemuinya. Ia duduk santai di samping tiga lukisan mural yang telah diselesaikannya. Ia mengenakan jaket sweater hitam, menggantungkan noken nilon besar di bahunya. Di tangan kanan, ia memegang palet cat, sementara tangan kirinya menggenggam telepon genggam. Saya mendekatinya, menyampaikan maksud untuk berbincang dan mendokumentasikan karyanya. Ia menyambut dengan ramah dan bercerita apa adanya.

Pada tembok bagian selatan, tergambar sosok Bapak Rudi Tigi, Kepala Bagian (Kabag)Umum Setda Kabupaten Dogiyai. Ia dilukiskan berdiri santai sambil membawa noken anggrek. Tangan kanannya memegang rokok, sementara tangan kirinya bertumpu di pinggang. Di belakangnya berdiri rumah emaawaa, rumah adat suku Mee yang bagian atapnya belum ditutupi jerami, dengan pintu terbuka dan asap tipis yang mengepul, menghadirkan kesan hangat kehidupan keluarga. Di bagian depan tampak tanaman mee tawa (tembakau) dan rumput.

Tak jauh dari itu, berdiri sebuah tiang dengan bingkai yang menampilkan potret setengah badan Bupati Dogiyai, Yudas Tebai, yang sedang berbicara menggunakan mikrofon berlogo TVRI Papua. Ia pakai kemeja bermotif Papua, pakai noken, pakai migabai (topi tradisional orang Mee). Latar belakangnya menampilkan lanskap pegunungan hijau, langit biru berawan, serta air terjun jernih yang mengalir dari hutan di antara pepohonan ke arah samping rumah. Sebuah gambaran alam Dogiyai yang asri dan hidup.

Pada tembok bagian barat, Martinus menghadirkan panorama alam yang memikat: hutan tropis dengan telaga yang terhubung ke aliran sungai jernih. Seekor burung cenderawasih bertengger anggun di dahan pohon, menjadi pusat perhatian. Pepohonan rimbun, bebatuan besar, serta latar pegunungan berkabut berpadu dengan langit biru dan awan putih, menciptakan suasana sejuk dan alami.

Sementara itu, pada tembok bagian timur, tergambar mural Bupati dan Wakil Bupati Dogiyai periode 2025–2029, Yudas Tebai, S.Pd., M.Si. dan Yuliten Anouw, SE. Keduanya mengenakan pakaian dinas resmi dan berdiri di sisi kiri dan kanan lambang Kabupaten Dogiyai. Sebuah selempang hijau menghubungkan keduanya, melambangkan kesatuan. Bupati digambarkan berdiri tegap dan mantap, sementara wakil bupati memberi hormat, sebuah simbol kedisiplinan dan komitmen dalam menjalankan pemerintahan.

Dari keseluruhan karya tersebut, saya melihat bahwa Martinus mengusung aliran realisme imajinatif. Objek-objek seperti manusia, rumah adat, hewan, dan pepohonan digambarkan dengan detail yang mendekati nyata. Namun, lanskap dan suasana yang dihadirkan merupakan hasil imajinasinya. Di situlah letak kekuatannya. Ia mampu membuat lukisan terasa hidup, seolah-olah hadir langsung di hadapan penikmatnya. Tidak heran, banyak orang datang untuk melihat dan berfoto di depan mural karyanya.
Martinus Dumupa adalah pemuda asal Pugatadi, Distrik Kamu Utara, Kabupaten Dogiyai. Ia lahir dari keluarga petani. Pendidikan dasarnya ditempuh di SD YPPK Moanemani, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri Moanemani dan SMK Negeri 1 Dogiyai dengan jurusan Agribisnis Ternak Unggas.
Pada tahun 2021, ia melanjutkan studi ke Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ) di jurusan Teknik Sipil. Bakat melukisnya berkembang secara otodidak sejak SMP dengan menggunakan pensil. Ia baru mulai menggunakan kuas dan cat pada tahun 2023 saat kuliah di Jayapura.
Namun, perjalanan pendidikannya sempat terhenti. Pada semester kedua, ia kembali ke kampung halaman untuk menjalani pemulihan akibat gangguan pada daya berpikir dan konsentrasi.
“Tahun 2022 sa pulang ke kampung untuk berdoa dan pemulihan. Sekarang, di tahun 2026, sa sudah mulai sembuh dan ingin melanjutkan kuliah lagi kalau ada biaya,” tuturnya.
Kalau saja tidak terkendala pada 2022 silam, mungkin tahun ini ia sudah wisuda bersama teman-temannya. Tetapi dia tidak terlampau sesalkan itu. Baginya, tidak ada kata terlambat untuk menyelesaikan pendidikan. Ia tetap bertekad melanjutkan kuliah di jurusan yang telah dipilihnya.
Dalam hal melukis, Martinus bekerja berdasarkan permintaan. Keterbatasan alat dan fasilitas membuatnya belum bisa berkarya secara rutin. Meski begitu, ia memiliki keinginan besar untuk berbagi ilmu.
“Sebenarnya sa ingin mengajar adik-adik kalau mereka mau. Tapi sa sendiri belum benar-benar fokus memulai. Untuk sekarang, sa ikuti ritme hidup saja. Kalau ada yang minta bantuan melukis di Nabire atau di mana, sa pergi,” katanya.
Ia juga berharap adanya ruang bagi seniman lokal di Dogiyai.
“Kalau ada lomba atau pameran lukisan, saya mau sekali terlibat. Bukan hanya saya, tapi banyak kakak-kakak lain juga punya bakat seni. Ini bisa jadi tempat kami bertemu dan berinteraksi dengan masyarakat, sekaligus menjual karya kami. Selama ini kami seperti tidak terlihat karena belum ada ruang.” Demikian ia mengatakan.
Kesempatan melukis mural di kompleks kantor bupati datang dari Bapak Rudi Tigi. Sebelumnya, baru-baru ini, ia juga pernah diundang bersama seniman dan penulis senior Dogiyai, Vitalis Goo, oleh Benediktus Goo, Kepala Bidang SD, SMP, SMA, dan SMK Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Dogiyai untuk melukis di rumahnya di Nabire.
Dari hasil melukis, Martinus mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan sesekali membantu orang tuanya. Meski penghasilan tidak menentu, ia tetap bersyukur.
“Tuhan tidak buta. Dia perhatikan saya dan orang tua saya,” ujarnya.
Selain melukis di kanvas dan tembok, Martinus juga memiliki minat pada seni ukir dan patung, baik dari kayu maupun bahan lain seperti tanah liat dan semen. Walau belum pernah mencoba secara langsung, ia yakin bisa melakukannya.
Secara pribadi, ia menyampaikan terima kasih kepada beberapa pihak di Dogiyai, seperti Bapak Rudi Tigi dan Bapak Benediktus Goo, yang telah memberi orang seperti dirinya kepercayaan untuk mengerjakan lukisan di rumah. Baginya, hal itu mungkin terlihat sederhana, namun sesungguhnya merupakan bentuk nyata apresiasi terhadap seni sekaligus langkah penting dalam pemberdayaan seniman lokal, agar mereka tetap dapat menghidupi karya dan memberi warna bagi Dogiyai melalui seni lukis.
Ia juga menegaskan bahwa dirinya, bersama para seniman lainnya, siap membantu jika ada kebutuhan jasa melukis. Asal ada penentuan harga yang adil, sehingga pelukis maupun pengguna jasa sama-sama merasa dihargai dan puas.
*Penulis: Herman Degei
[Nabire.Net]

8 hours ago
7

















































