BMKG: Puncak Kemarau 2026 Terjadi Agustus, Papua Tengah Tetap Berpotensi Hujan

8 hours ago 8

Nabire, 14 Maret 2026 – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim kemarau tahun 2026 di wilayah Papua akan terjadi secara bertahap mulai pertengahan Mei. Berdasarkan analisis data klimatologis serta prakiraan iklim terbaru, sebagian wilayah Papua diprediksi mulai memasuki awal musim kemarau pada Mei dasarian II.

Awal musim kemarau tersebut ditandai dengan menurunnya jumlah curah hujan dibandingkan periode sebelumnya sesuai dengan kriteria awal musim kemarau pada masing-masing Zona Musim (ZOM).

Prakirawan Cuaca BMKG Stasiun Meteorologi Nabire, Leo Arie, menjelaskan bahwa kondisi iklim di Papua Tengah memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan wilayah lain di Indonesia.

Papua Tengah Didominasi Zona Musim Hujan Sepanjang Tahun

Untuk wilayah Papua Tengah, sebagian besar daerah masuk dalam pembagian Zona Musim Lokal, yakni wilayah Nabire dan Mimika, serta Zona Musim Equatorial yang mencakup sebagian besar kabupaten di wilayah pegunungan.

Pada kedua zona tersebut, kondisi iklim tergolong musim hujan sepanjang tahun, sehingga tidak memiliki batas yang jelas antara musim hujan dan musim kemarau.

Meski demikian, ketika wilayah lain di Indonesia mengalami musim kemarau, daerah Papua Tengah umumnya tetap mengalami hujan, meskipun terjadi penurunan curah hujan yang relatif kecil.

Puncak Musim Kemarau Diprediksi Terjadi Agustus 2026

BMKG memprakirakan kondisi musim kemarau akan berkembang pada pertengahan tahun 2026.

Puncak musim kemarau diprediksi dominan terjadi pada bulan Agustus 2026 dengan sebaran yang mencakup sebagian besar Zona Musim di wilayah Papua.

Pada periode tersebut, curah hujan umumnya berada pada tingkat yang lebih rendah dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, sehingga kondisi relatif lebih kering akan lebih dominan terjadi di sebagian wilayah.

Musim Kemarau 2026 Diprediksi Normal

Berdasarkan prakiraan sifat musim, musim kemarau tahun 2026 di wilayah Papua diprediksi berada pada kategori Normal.

Artinya, jumlah curah hujan selama periode kemarau diperkirakan masih berada dalam kisaran rata-rata klimatologis, sehingga tidak diprediksi mengalami penyimpangan iklim yang signifikan.

Informasi prakiraan musim ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam berbagai perencanaan pembangunan, terutama pada sektor:

  • Pertanian

  • Pengelolaan sumber daya air

  • Mitigasi risiko kekeringan di wilayah Papua Tengah.

Imbauan BMKG kepada Pemerintah dan Masyarakat

BMKG juga menyampaikan sejumlah imbauan kepada pemerintah daerah, instansi terkait, serta masyarakat agar lebih siap menghadapi potensi dampak musim kemarau.

1. Antisipasi bencana hidrometeorologi kering

BMKG mengimbau kementerian/lembaga, pemerintah daerah, serta masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi kering selama periode musim kemarau.

Wilayah yang mengalami sifat musim kemarau bawah normal berpotensi mengalami peningkatan risiko:

  • Kekeringan meteorologis

  • Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla)

2. Edukasi masyarakat tentang manajemen air

Pemerintah daerah diharapkan dapat mengedukasi masyarakat mengenai cara menghadapi potensi bencana selama musim kemarau, termasuk pentingnya pengelolaan cadangan air dan panen hujan.

3. Menyusun rencana aksi dini

Informasi prakiraan musim kemarau 2026 diharapkan dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah dan sektor terkait untuk menyusun rencana aksi dini (Early Action), seperti:

  • Penyiapan sarana pemadaman kebakaran

  • Koordinasi pengaturan debit air waduk dan embung

4. Bijak menggunakan air dan mencegah kebakaran

BMKG juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan air bersih secara bijak serta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran, seperti:

  • Membakar sampah sembarangan

  • Membuka lahan dengan cara dibakar

Langkah ini penting untuk menjaga kualitas udara dan kesehatan lingkungan.

[Nabire.Net]

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |