Nabire, 13 Maret 2026 – Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan melaksanakan sosialisasi dan implementasi buku pembelajaran kontekstual Papua bagi siswa Sekolah Unggulan Berpola Asrama di SMA Negeri Meepago, Kabupaten Nabire, Jumat (13/3/2026).
Kegiatan yang berlangsung di aula sekolah tersebut merupakan bagian dari program Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah dalam memperkuat pembelajaran berbasis realitas sosial dan budaya Papua.
Empat buku pembelajaran diperkenalkan dalam kegiatan tersebut, yakni Bahasa dan Sastra Indonesia Kontekstual Papua untuk SMA/SMK Kelas X, Pers Sekolah Era New Media: Teori dan Praktik, Menulis Karangan Kontekstual: Dari Kehidupan Siswa Papua untuk Pembelajaran yang Bermakna, serta Pintar Memilih Perguruan Tinggi dan Akses Beasiswa.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Nurhaidah Meki Nawipa, yang diwakili Kepala Bidang Pengelolaan Data dan Fasilitas Pendidikan, Yulianus Kuayo.
Usai pembukaan kegiatan, Yulianus Kuayo mengatakan pemerintah provinsi melakukan sejumlah intervensi program untuk mendukung pengembangan sekolah unggulan berpola asrama tersebut.
Menurutnya, intervensi pertama adalah kebijakan pembiayaan sekolah gratis bagi siswa yang diterima di SMA Negeri Meepago.
“Program pertama adalah pembiayaan sekolah gratis. Jadi siswa yang masuk di sini tidak dipungut biaya,” ujarnya kepada awak media.
Selain itu, pemerintah juga memberikan dukungan pembiayaan untuk pengelolaan asrama, termasuk kebutuhan makan dan minum serta operasional pengelola asrama.
Intervensi lainnya adalah pengadaan buku perpustakaan, baik buku akademik maupun buku yang bersifat kontekstual tentang Papua.
“Kami juga membantu pengadaan buku perpustakaan yang menjadi referensi bagi anak-anak yang tinggal di asrama,” katanya.
Ia menjelaskan, keberadaan buku-buku tersebut diharapkan dapat mendorong pengembangan literasi siswa. Karena itu pihak sekolah diharapkan menyusun jadwal belajar yang teratur bagi siswa, termasuk waktu khusus untuk membaca di perpustakaan.
“Kalau anak-anak mau belajar tetapi tidak ada buku tentu sulit. Karena itu kami intervensi dengan pengadaan buku agar pengembangan literasi di sekolah ini berjalan baik,” ujarnya.
Yulianus menambahkan, untuk tahap awal buku-buku tersebut baru diperuntukkan bagi SMA Negeri Meepago. Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah daerah untuk mendorong sekolah tersebut menjadi sekolah unggulan di Papua Tengah.
Sementara itu, penulis empat buku tersebut, Yeremias Degei, mengatakan penyusunan buku kontekstual Papua berangkat dari pengalaman pribadinya sebagai anak kampung yang harus mempelajari materi pelajaran yang sering kali tidak berkaitan dengan lingkungan tempat ia tumbuh.
Menurutnya, banyak materi pembelajaran di sekolah selama ini lebih banyak mengambil contoh dari daerah lain, sehingga siswa di Papua kerap kesulitan memahami pelajaran.
“Kadang kita belajar sesuatu yang jauh dari kehidupan sosial dan lingkungan kita, sehingga pelajaran terasa sulit dipahami,” ujarnya.
Melalui buku kontekstual tersebut, ia berupaya menghadirkan materi pembelajaran yang dekat dengan kehidupan masyarakat Papua. Buku itu terdiri dari 12 unit pembelajaran dengan tema-tema yang relevan dengan kondisi di Papua, seperti hutan Papua, peternakan, perkebunan, pendidikan, dan berbagai realitas sosial lainnya.
Yeremias menjelaskan, buku tersebut akan diuji coba terlebih dahulu selama sekitar enam bulan hingga satu tahun. Selama masa uji coba, pihaknya akan meminta masukan dari siswa maupun guru untuk penyempurnaan materi.
Jika hasil evaluasi menunjukkan hasil positif, buku pembelajaran kontekstual Papua tersebut direncanakan akan diperluas penggunaannya ke sekolah-sekolah lain di Papua Tengah.
[Nabire.Net/Musa Boma]

7 hours ago
6


















































